Sejarah Walikota Probolinggo Pertama Ferdinand Edmond Meijer
Share

SUARAGONG.COM – Sejarah Walikota Probolinggo Pertama tidak bisa dilepaskan dari sosok Ferdinand Edmond Meijer, pemimpin pertama kota ini pada masa kolonial Hindia Belanda. Perjalanan hidupnya penuh dinamika, mulai dari lahir di Belanda, berkarier di militer, hingga akhir hayatnya di masa pendudukan Jepang.
Awal Kehidupan dan Karier Militer
Dari Instagram @infoprobolinggo, Ferdinand Edmond Meijer lahir di Schveningen, Den Haag, Belanda, pada 27 Agustus 1885. Latar belakang keluarganya membawanya masuk ke dunia militer dengan bergabung ke KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda.
Karier militernya terus menanjak hingga mencapai pangkat mayor, sebelum akhirnya beralih ke pemerintahan sipil. Peralihan ini menjadi titik penting yang menghubungkannya dengan Probolinggo.
Baca juga: Pemkot Probolinggo Gelar Pelatihan Microsoft Project bagi Pelaku Jasa Konstruksi
Dari Militer ke Walikota Probolinggo
Pada tahun 1929, Meijer diangkat sebagai burgemeester atau Walikota Probolinggo. Jabatan ini bukan sekadar administratif, tetapi juga membawa kekuasaan penuh dalam mengatur tata kota dan kehidupan masyarakat kala itu.
Selama delapan tahun menjabat, ia mencatat sejumlah kebijakan penting, salah satunya adalah klasifikasi jalan di Probolinggo. Berdasarkan arsip De Indische Courant edisi 29 Januari 1935, Meijer membagi jalan menjadi empat kelas (I, II, III, dan IV). Klasifikasi ini terkait fungsi, kualitas, dan kepadatan lalu lintas pada masa itu.
Kebijakan ini menjadi salah satu pondasi wajah infrastruktur perkotaan Probolinggo yang lebih tertata.
Baca juga: Polemik Gedung Kesenian Probolinggo Jadi Lapangan Tenis Indoor
Dinamika Sosial dan Politik
Selama menjabat (1929–1937), Meijer menghadapi masa yang penuh tantangan. Dunia tengah dilanda Depresi Besar (Great Depression), sementara di Hindia Belanda mulai tumbuh gerakan nasionalis yang menginginkan kemerdekaan.
Perannya sebagai Walikota Probolinggo pun bukan hanya soal pembangunan, tetapi juga menyangkut dinamika sosial-politik yang semakin kompleks.
Baca juga: Bupati Probolinggo Serahkan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya
Akhir Hayat di Masa Pendudukan Jepang
Kehidupan Ferdinand Edmond Meijer berubah drastis ketika Jepang menduduki Indonesia pada awal 1940-an. Banyak pejabat Belanda, termasuk dirinya, ditangkap dan dijadikan tahanan perang.
Meijer kemudian dipenjara di Lapas Sukamiskin, Bandung, hingga akhirnya wafat pada 6 Februari 1945. Kepergiannya terjadi hanya beberapa bulan sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Jenazahnya dimakamkan di Ereveld Pandu Bandung, kompleks pemakaman Belanda yang berisi sekitar 4.000 makam, mayoritas adalah tokoh militer dan korban perang.
Baca juga: Dua Atlet Kurash Probolinggo Wakili Indonesia di Ajang Internasional
Warisan Meijer untuk Kota Probolinggo
Meski Ferdinand Edmond Meijer adalah representasi kekuasaan kolonial, ia meninggalkan warisan berupa tata kelola kota yang lebih tertata. Sejarah Walikota Probolinggo Pertama ini bukan hanya kisah individu, melainkan juga bagian dari perjalanan panjang kota dalam menghadapi dinamika kolonialisme, politik, hingga perjuangan menuju kemerdekaan. (duh/dny)