Tingkat Kemiskinan Jatim Turun Jadi 9,50 Persen
Share
SUARAGONG.COM – Jumlah penduduk miskin di Jawa Timur terus menunjukkan tren menurun. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025, tingkat kemiskinan Jatim kini berada di angka 9,50 persen, turun 0,29 persen poin dari Maret tahun sebelumnya.
Tingkat Kemiskinan Jatim Turun, Gubernur Khofifah: Hasil Perlindungan Sosial dan Pemberdayaan
Artinya, sebanyak 17.940 warga Jatim berhasil terentaskan dari kemiskinan hanya dalam waktu setahun. Jumlah ini sekaligus menjadikan Jatim sebagai provinsi dengan penurunan penduduk miskin tertinggi kedua di Pulau Jawa, setelah Jawa Tengah.
Menanggapi capaian ini, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan rasa syukur sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan ini bukan sekadar angka statistik.
“Penurunan kemiskinan di Jatim adalah hasil nyata dari kerja kolektif. Dari pemerintah provinsi, kabupaten/kota, hingga desa. Termasuk sinergi dengan sektor swasta, media, perguruan tinggi, dan komunitas,” ujar Khofifah di Gedung Negara Grahadi, Minggu (28/7/2025).
Khofifah menekankan, keberhasilan ini juga tak lepas dari tepatnya sasaran program perlindungan sosial dan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan.
Baca Juga : Pansus DPRD Provinsi Jatim Soroti Data Kemiskinan dan Aset Daerah
Desa Jadi Kunci Penurunan Kemiskinan
Dari sisi wilayah, penurunan terbesar terjadi di perdesaan, yakni sebesar 0,44 persen poin atau setara 105.290 jiwa. Sementara di wilayah perkotaan, penurunannya sebesar 0,12 persen poin atau sekitar 1.510 jiwa.
Tak hanya itu, disparitas kemiskinan antara desa dan kota pun mulai menyempit. Jika pada Maret 2019 selisihnya mencapai 7,59 persen, kini menjadi 5,86 persen. Gubernur Khofifah menilai tren ini positif dan menunjukkan pembangunan yang mulai merata.
Baca Juga : Temu Pendidik Nusantara XII, Gus Fawait: Pendidikan Cara Entaskan Kemiskinan
Gini Ratio dan Kedalaman Kemiskinan Juga Turun
Selain jumlah penduduk miskin, indikator kesenjangan ekonomi juga menunjukkan perbaikan. Gini Ratio Jatim per Maret 2025 tercatat 0,369 poin, turun 0,004 poin dari September 2024.
Adapun kedalaman kemiskinan (P1) turun dari 1,480 menjadi 1,414, dan keparahan kemiskinan (P2) dari 0,310 menjadi 0,294. Ini artinya, rata-rata pengeluaran penduduk miskin makin dekat dengan garis kemiskinan dan kesenjangan di antara mereka makin kecil.
“Ini indikasi bahwa program kita selama ini makin tepat sasaran. Tidak hanya menyentuh jumlah, tapi juga memperbaiki kualitas hidup kelompok miskin,” tegas Khofifah.
Rokok Masih Jadi Faktor Pengeluaran Masyarakat Miskin
Dalam laporan BPS disebutkan, tiga komoditas makanan yang paling memengaruhi garis kemiskinan di Jatim adalah beras, rokok kretek filter, dan telur ayam ras. Sementara untuk non makanan, adalah perumahan, bensin, dan listrik.
Menariknya, rokok tetap menjadi salah satu pengeluaran utama masyarakat miskin di Jatim. Khofifah menjelaskan bahwa sebagian besar petani tembakau yang tinggal di desa memang cenderung tetap merokok meski dalam keterbatasan ekonomi.
Anggaran Bansos dari APBN dan Pemprov Jatim Capai Rp12,3 Triliun
Untuk mempercepat penurunan kemiskinan, Khofifah memaparkan bahwa anggaran bansos dari Kemensos melalui APBN tahun 2025 mencapai Rp12,135 triliun. Bantuan tersebut disalurkan ke 3,33 juta keluarga penerima manfaat dan telah dicairkan untuk dua triwulan pertama.
Sementara itu, Pemprov Jatim juga mengalokasikan Rp180,42 miliar dari APBD untuk bansos tahun 2025.
Atas kinerja pengentasan kemiskinan ekstrem, Jawa Timur juga menerima Dana Insentif Fiskal (DIF) dari pemerintah pusat. Tahun 2023 senilai Rp6,2 miliar, dan tahun 2024 meningkat menjadi Rp6,24 miliar.
Khofifah pun mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga budaya gotong royong sebagai bagian dari solusi.
“Pemerintah akan terus memperkuat program perlindungan sosial berkelanjutan, tapi peran masyarakat juga sangat penting. Mari kita bantu tetangga dan saudara yang masih butuh uluran tangan,” pungkasnya. (Aye)

