Type to search

Pemerintahan Pendidikan

Tragedi Siswa SD di NTT Jadi Alarm, DPR Siapkan Revisi UU Sisdiknas

Share
DPR RI meminta Komisi X mendalami kasus siswa SD di NTT dan memastikan persoalan pendidikan masuk Revisi UU Sisdiknas 2026

SUARAGONG.COM – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI buka suara terkait peristiwa meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga dipicu tekanan kondisi ekonomi keluarga. Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, meminta Komisi X segera mengumpulkan seluruh informasi faktual terkait kasus tersebut.

DPR Dalami Kasus Siswa SD di NTT, Revisi UU Sisdiknas Masuk Prolegnas 2026

Menurut Cucun, DPR juga memastikan berbagai persoalan dunia pendidikan akan dimasukkan dalam draf Revisi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), yang telah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) prioritas tahun 2026.

“Apalagi fenomena sekarang di tengah-tengah kondisi ekonomi, atau bisa jadi bukan hanya soal alat tulis, bisa juga karena perundungan. Ini yang menjadi masalah besar bagi kita dan harus diselesaikan,” ujar Cucun, Kamis (4/2/2026).

Dorong Peran Guru Lebih Aktif Pantau Kondisi Siswa

Cucun menekankan, ke depan interaksi antara guru dan siswa perlu diperkuat dan diatur lebih jelas dalam regulasi. Pemerintah diharapkan mendorong setiap guru mampu memetakan persoalan murid, termasuk kebutuhan pendidikan dan kondisi sosial mereka.

Ia juga meminta Komisi X segera memanggil Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) untuk memaparkan informasi lengkap terkait peristiwa tersebut, sekaligus menyiapkan langkah antisipatif agar kejadian serupa tidak terulang.

“Apakah Kementerian Dikdasmen sudah tahu? Ini kan baru satu kasus yang muncul. Bisa saja ada lainnya. Makanya kita ingin ada antisipasi dan langkah preventif dari Kementerian Pendidikan Dasar Menengah,” tegasnya.

DPR Minta Pendalaman Menyeluruh

Selain memanggil kementerian terkait, DPR juga akan meminta aparat penegak hukum melakukan pendalaman. Cucun menegaskan, kasus ini perlu dibuka secara terang agar tidak disederhanakan hanya pada persoalan ekonomi semata.

“Jangan sampai hanya disudutkan soal pensil atau buku, ternyata ada permasalahan lain yang lebih kompleks, baik di ruang pendidikan maupun keluarga,” kata politisi PKB tersebut.

Baca Juga : Tragis, Siswa SD di NTT Meninggal Diduga karena Tak Mampu Beli Buku

Informasi dari Info yang Beredar

Dari berbagai sumber, disebutkan seorang anak berinisial YBS (10) sempat meninggalkan pesan untuk ibunya sebelum meninggal dunia. Sebelumnya, korban diduga meminta uang untuk membeli perlengkapan sekolah, namun keluarga menyampaikan sedang tidak memiliki dana.

Peristiwa ini pun menjadi alarm bagi banyak pihak terkait pentingnya perlindungan anak serta penguatan sistem pendidikan yang lebih peka terhadap kondisi sosial peserta didik. (Aye/sg)

Tags:

You Might also Like