Uji Coba MBG Prasmanan, DPRD Kota Malang Soroti Waktu Belajar
Share
SUARAGONG.COM – Uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di sekolah mulai mendapat sorotan dari DPRD Kota Malang. Program ini dinilai menghadirkan pengalaman baru bagi siswa, namun tetap perlu evaluasi terutama dari sisi efektivitas waktu belajar.
Uji Coba MBG Prasmanan di Sekolah, DPRD Kota Malang Soroti Efektivitas Waktu Belajar
Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Suryadi, menyebut sistem prasmanan memberikan suasana berbeda karena siswa makan bersama di aula, tidak lagi di dalam kelas seperti biasanya. Dalam pelaksanaannya, siswa mengambil makanan secara bergiliran, dimulai dari kelas atas hingga ke bawah.
“Anak-anak bisa merasakan secara langsung, biasanya makan di dalam kelas, tetapi ini berada di aula makan secara bersama-sama,” ujarnya.
Berpotensi Ganggu Jam Belajar
Meski membawa nuansa baru, Suryadi mengingatkan agar pelaksanaan program tidak mengorbankan waktu belajar siswa. Ia menilai sistem antre dan bergiliran berpotensi memakan waktu cukup lama.
“Jangan sampai proses pembelajaran itu tersita waktunya oleh kegiatan uji coba ini. Prioritas pembelajaran tetap harus diutamakan,” tegasnya.
Menurutnya, durasi makan dengan sistem prasmanan bahkan bisa mencapai sekitar satu jam jika tidak diatur dengan baik.
Ompreng Dinilai Lebih Efisien
Suryadi membandingkan dengan sistem pembagian makanan menggunakan ompreng (kotak makan) yang dinilai lebih praktis. Metode tersebut memungkinkan siswa tetap makan di dalam kelas tanpa harus berpindah tempat.
Karena itu, ia menyarankan agar pemerintah tetap membuka berbagai opsi pelaksanaan agar tidak mengganggu jam pelajaran.
“Bisa saja ini menjadi salah satu opsi, tetapi tidak diterapkan setiap hari. Tinggal bagaimana manajemennya diatur agar tetap efisien,” jelasnya.
Baca Juga :MBG Sistem Prasmanan Diuji di MIN 2 Malang
Perlu Penyesuaian Jadwal
Jika sistem prasmanan tetap diterapkan, Suryadi menilai perlu adanya penyesuaian jadwal belajar. Tanpa tambahan waktu, program ini berpotensi memangkas durasi pembelajaran yang sudah berjalan sejak pagi hari.
Menu Sudah Sesuai Standar
Dari sisi kualitas makanan, Suryadi memastikan menu yang disajikan telah memenuhi standar yang ditetapkan. Baik menu basah maupun kering mengacu pada ketentuan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Menunya sudah standar, baik dari Dinas Pendidikan maupun Dinas Kesehatan, sehingga pelaksana di lapangan tinggal mengikuti ketentuan yang ada,” pungkasnya. (Fat/aye)

