SUARAGONG.COM – Kalau ada yang bilang Gen Z itu “Generasi Strawberry” yang punya mental lembek, mungkin mereka belum lihat data terbarunya. Faktanya, Gen Z (kelahiran 1990-an akhir – 2010-an awal) lagi menghadapi krisis kesehatan mental yang cukup serius. Mulai dari anxiety sampai depresi mayor, prevalensinya melonjak tajam dibanding generasi sebelum Gen Z. Tapi, ini bukan tanpa alasan, lho. Ada beban zaman yang bener-bener beda yang harus dipikul anak muda zaman sekarang.
Aslinya emang dari data sendiri bilang (Halodoc, detikhealth), Gen Z mengalami lonjakan gangguan kecemasan dan depresi yang signifikan, dengan tingkat prevalensi tertinggi (depresi 22,3% dan kecemasan 30%). Hal ini lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.
Kenapa Gen Z Lebih Rentan Depresi? Ini Faktornya:
1. Hidup di Bawah Bayang-bayang ‘Highlight Reel’
Sebagai digital native, kita nggak bisa lepas dari medsos. Masalahnya, kita terus-terusan terpapar sisi terbaik hidup orang lain. Efeknya? Muncul rasa inadequate (nggak cukup), hobi membandingkan diri, sampai kena FOMO yang bikin pikiran nggak tenang. Belum lagi risiko cyberbullying yang bisa kejadian 24/7.
2. Masa Depan yang Kelihatan ‘Buram’
Tumbuh di tengah inflasi, ketatnya persaingan kerja, hingga sisa-sisa trauma pandemi COVID-19 bikin kita sering kena future anxiety. Rasanya kayak lagi lari di atas treadmill: udah capek banget, tapi rasanya nggak maju-maju.
3. Doomscrolling & Isu Global
Cuma lewat HP, kita dibombardir berita soal perubahan iklim, perang, sampai ketidakadilan sosial. Beban moral dan kecemasan eksistensial ini pelan-pelan numpuk jadi beban psikologis yang berat.

Baca Juga : Gaes !!! Kebiasaan Doom Spending Bikin Gen Z Makin Miskin?
Red Flag yang Perlu Kamu Waspadai
Nggak cuma sedih biasa, ada beberapa faktor risiko yang bikin seseorang lebih rentan kena gangguan mental, di antaranya:
- Sifat Perfeksionis: Terlalu self-critical dan nuntut diri sendiri harus sempurna.
- Tekanan Akademis: Obsesi sama nilai bagus atau ambisi masuk kampus ternama yang malah bikin burnout.
- Lingkungan Toxic: Kurangnya support system dari keluarga atau lingkungan pertemanan.
Baca Juga : Marriage is Scary :Gen Z Indonesia Ketar-Ketir Soal Menikah
Kesadaran Tinggi, Tapi Stigma Masih Ada
Kabar baiknya, Gen Z itu paling vokal soal mental health. Kita lebih berani buat bilang “Gue lagi nggak oke.” Tapi sayangnya, stigma di lingkungan sekitar kadang masih kuat, bikin kita ragu buat cari bantuan profesional karena takut dihakimi.
Gongers, It’s Okay to Seek Help! Kesehatan mental itu sama pentingnya sama kesehatan fisik. Kalau kamu ngerasa gejala cemas atau sedihnya udah mulai ganggu produktivitas, jangan ragu buat reach out ke psikolog atau orang yang kamu percaya.
Ingat, mengakui kalau kamu lagi nggak baik-baik saja adalah langkah awal paling berani untuk sembuh. Stay sane, stay slay! (Aye/sg)










