Type to search

Gaya Hidup Peristiwa

Kenapa Kita Wajib Banget Stay With Victim Dalam Kasus Pelecehan Seksual

Share
Dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual, keberpihakan kita ke korban (Stay with Victim) adalah fondasi utama dalam menciptakan ruang aman

SUARAGONG.COM – Dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual, keberpihakan kita kepada korban (Stay with Victim) adalah fondasi utama dalam menciptakan ruang aman. Mendukung korban bukan berarti kita mengabaikan proses hukum, melainkan memastikan bahwa korban memiliki kekuatan untuk melalui proses panjang tersebut.

Kenapa Kita Harus Stay With Victim dalam Dalam Kasus Pelecehan Seksual

Pernah nggak sih kamu liat kolom komentar yang isinya catcalling ketikan? Atau mungkin komentar soal pakaian dan keluar malam, Pas ada orang yang berani curhat soal pelecehan seksual yg di alami seperti itu, entah fisik atau lisan, eh malah dibales: “Halah, baperan banget lu, itu kan cuma bercanda!” atau “Lagian profil lu mancing sih!” , Guys Itu tetap ‘sexual abuse’

Duh, stop deh. Fenomena “ketikan jahat” dan pelecehan verbal di medsos itu nyata, dan dampaknya nggak main-main. Inilah kenapa kita wajib banget punya prinsip #StayWithVictim di era digital sekarang. Berikut adalah alasan mengapa edukasi mengenai keberpihakan pada korban sangat penting:

Memutus Rantai Victim Blaming (Menyalahkan Korban)

Seringkali masyarakat justru bertanya, “Pakai baju apa?” atau “Kenapa pulang malam?”. Pertanyaan ini menyudutkan korban dan seolah membenarkan tindakan pelaku. Dengan stay with victim, kita menegaskan bahwa kesalahan 100% ada pada pelaku, bukan pada perilaku atau pakaian korban. Kalau di platform digital, sering kali ada ucapan seksual yang di bungkus becandaan. Kalau kita bilang ga suka, biasanya banyak yang bales “Ah Lu baperan”.

Faktanya, pelecehan secara tulisan atau lisan di internet itu masuk ke ranah psikologis. Bayangin rasanya diserang ucapan atau komentar kotor; itu bisa bikin orang anxiety, takut buka HP, sampai benci sama diri sendiri, merasa kotor dan lainnya. Dengan kita mendampingi korban, kita bantu mereka buat nggak ngerasa “tenggelam” sendirian di tengah pelecehan yang dia alami.

Digital Footprint itu Kejam

Beda sama omongan di jalan yang bisa hilang tertiup angin, pelecehan di internet itu ada jejak digitalnya. Korban harus liat bukti pelecehan itu berkali-kali setiap buka notifikasi. Kalau kita nggak berpihak ke korban, mereka bakal merasa dunia digital itu tempat yang sangat nggak aman buat mereka berekspresi.

Baca Juga : Viral Kasus Pelecehan Mahasiswa FHUI: Dihujat Habis Netizen

Melawan Budaya “Normalization”

Sering banget pelecehan dibungkus pakai kata “bercanda” atau “dark jokes”. Kalau kita diem aja, kita seolah-olah setuju kalau pelecehan verbal itu “biasa”. Kita harus speak up dan nemenin korban buat nunjukin kalau: Harassment is NEVER a joke. Stop fantasi mu dan yang keluar dari mulut mu gaes!

Biar Korban Gak Takut Speak Up

Kalau satu korban dihujat pas speak up, korban lain bakal makin takut buat lapor. Dengan kita kasih dukungan penuh (validasi ceritanya, nggak menghakimi), kita lagi bangun “benteng” biar korban merasa punya back-up buat nyari keadilan atau sekadar cari bantuan profesional.

Dunia internet udah cukup toksik, jangan ditambah lagi dengan sikap kita yang cuek atau malah nyalahin korban. Being a decent human being is free. Yuk, mulai dari kita buat selalu percaya dan dampingi korban. (Aye/sg)

Tags:

You Might also Like