SUARAGONG.COM – Dunia pendidikan lagi gak tenang, Lur! Ajang bergengsi Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat mendadak jadi arena “war” netizen. Gara-garanya? Dugaan ketidakadilan penilaian yang bikin skor peserta jadi jomplang banget, padahal jawabannya dinilai mirip-mirip.
DRAMA LCC 4 PILAR: KPAI Soroti Dugaan Ketidakadilan Dalam Lomba
Penasaran kenapa isu ini bisa meledak sampe disenggol lembaga negara? Simak rangkuman lengkapnya biar lo gak kudet!
Juri Pejabat Eselon Jadi Sorotan
Salah satu dewan juri yang kena sorot tajam adalah Dyastasita Widya Budi. Bukan orang sembarangan, beliau adalah Kepala Biro Pengkajian Konstitusi di Setjen MPR RI dengan pangkat Pembina Utama (IV/e).
Netizen pun gercep nge-spill profilnya, termasuk laporan harta kekayaannya (LHKPN) yang tercatat sebesar Rp581 jutaan. Publik kini mempertanyakan: Kok sekelas pejabat eselon tinggi bisa ada polemik penilaian yang dianggap nggak konsisten di mata siswa?
SMAN 1 Pontianak Speak Up!
Pemicu utamanya adalah video babak final yang beredar luas. Tim dari SMAN 1 Pontianak merasa ada perlakuan diskriminatif. Jawaban mereka yang secara substansi dianggap sama dengan tim lain, ternyata dikasih nilai yang beda jauh sama dewan juri. Protes pun mengalir deras di media sosial, menuntut transparansi mekanisme penilaian.
KPAI Turun Tangan: “Jangan Bikin Anak Kena Mental!”
Melihat isu ini makin liar, KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) nggak tinggal diam. Ketua KPAI, Aris Adi Leksono, tegas ngasih peringatan ke penyelenggara:
- Dampak Psikologis: Ketidakadilan di depan umum bisa bikin anak sekolah ngerasa malu, jatuh mentalnya, sampe trauma ikut kompetisi.
- Desak Evaluasi Terbuka: KPAI minta juri dan panitia jangan tutup telinga. Harus ada evaluasi jujur, dan kalau emang salah, ya harus minta maaf dan pulihin nama baik peserta.
Baca Juga :SIAPA DYASTASITA WIDYA BUDI? Sosok Juri LCC 4 Pilar MPR
Integritas di Atas Panggung Tetap Dijaga
Isu ini jadi pengingat keras kalau ajang yang tujuannya nanamkan nilai-nilai konstitusi dan keadilan (4 Pilar) justru harus jadi contoh paling nyata soal keadilan. Jangan sampe jargonnya “Adil dan Beradab”, tapi praktiknya malah bikin peserta ngerasa “dizalimi” aturan juri.
Integritas itu nggak bisa cuma diomongin di podium, tapi harus dibuktikan lewat skor yang adil. Buat temen-temen siswa yang lagi berjuang, tetep semangat! Kalian udah ngebuktiin kalau berani speak up demi kebenaran itu jauh lebih mbois daripada sekadar piala. (Aye/sg)










