Daftar Isi
Bondowoso, Suaragong.com – Menggerakkan ekonomi santri sekaligus mengajak masyarakat lebih peduli terhadap sampah menjadi dua fokus utama Gebyar Ekonomi Santri (GES) 2026 di Kabupaten Bondowoso. Digelar Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) PCNU Bondowoso pada 28 Oktober hingga 4 November 2026. Kegiatan ini menggabungkan pemberdayaan UMKM dengan penerapan konsep ekonomi hijau atau green economy.
Gebyar Ekonomi Santri Bondowoso, UMKM Bergerak dan Edukasi Sampah Digencarkan
Tak sekadar menjadi ruang promosi dan transaksi usaha, GES 2026 juga dirancang sebagai ajang edukasi pengelolaan sampah di ruang publik. Panitia menargetkan kegiatan berlangsung dengan konsep zero waste event, yakni meminimalkan sampah melalui pemilahan, edukasi pengunjung, dan pengelolaan yang terstruktur.
Ketua Panitia GES 2026, Muhassim, mengatakan konsep tersebut penting diterapkan. Karena kegiatan yang menghadirkan banyak pengunjung berpotensi menghasilkan sampah dalam jumlah besar. Terlebih, selama sepekan akan ada panggung santri yang menyuguhkan beragam pertunjukan seni. Mulai dari penampilan kolosal Tari Saman oleh 1.000 siswa-siswi At-Taqwa hingga pertunjukan sanggar seni lokal.

“Poin utama yang kami angkat adalah menjadikan acara ini bebas sampah selama kegiatan berlangsung,” ujar Muhassim.
Gandeng Komunitas untuk Berbagi Ilmu
Untuk mendukung upaya tersebut, panitia menggandeng komunitas pengelolaan sampah Sarkaspace. Founder Sarkaspace, Ahmad Quraisy, menjelaskan bahwa pihaknya menyiagakan relawan di 12 titik tempat sampah strategis. Setiap titik menyediakan tiga kategori pemilahan, yakni sampah organik, anorganik, dan residu.
Relawan tidak hanya memantau tempat sampah, tetapi juga berkeliling setiap setengah jam untuk mengedukasi pengunjung agar memilah sampah sejak dari sumbernya. Tim turut melakukan penyisiran serta mencatat volume sampah secara berkala setiap tiga hari sekali.
“Kami berharap ini bisa menjadi percontohan. Tidak hanya untuk acara ini saja, tetapi semua acara ke depannya harus memiliki sistem pengelolaan sampah yang terstruktur dan melibatkan edukasi langsung kepada masyarakat,” terang Ahmad.
130 Stan Dorong Ekonomi Santri dan UMKM Lokal
Di sisi ekonomi, GES 2026 menghadirkan total 130 stan yang melibatkan berbagai unsur. Rinciannya terdiri dari 85 pelaku UMKM, 11 organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Kabupaten Bondowoso, serta 24 lembaga dan badan otonom NU. Panitia juga menyiapkan rangkaian pelatihan selama enam hari berturut-turut, termasuk pelatihan pengelolaan sampah dan ekonomi kreatif.
Kehadiran stan usaha dan pelatihan tersebut diharapkan membuka ruang promosi, memperluas jejaring, serta meningkatkan keterampilan pelaku usaha lokal. Dengan begitu, kegiatan ini tidak hanya mendorong transaksi selama acara, tetapi juga mendukung penguatan usaha dalam jangka panjang.
Ketua PCNU Bondowoso, M. Syaeful Bahar, menilai jaringan dan potensi warga Nahdlatul Ulama dapat menjadi modal sosial untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
Menurutnya, potensi tersebut perlu dikelola secara terorganisasi agar mampu melahirkan kekuatan ekonomi nyata, termasuk melalui pengembangan usaha dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Melalui GES 2026, LPNU PCNU Bondowoso berharap ekonomi santri dan UMKM lokal semakin berkembang, sementara edukasi pemilahan sampah menjadi kebiasaan yang terus diterapkan. Panitia juga berharap konsep pengelolaan sampah terstruktur dapat menjadi contoh bagi penyelenggaraan kegiatan publik lainnya di Bondowoso. (Rokib/aye/sg)







