Viral! Kontribusi Tasya Kamila LPDP Jadi Sorotan
Share
SUARAGONG.COM – Kalau kamu lagi scroll timeline Instagram atau Twitter beberapa hari terakhir, pasti sempat lihat namanya Tasya Kamila berkibar lagi di dunia maya. Bukan karena lagu anak-anak walaupun itu legend banget. Tapi karena postingan soal laporan kontribusi setelah jadi alumni beasiswa LPDP yang tiba-tiba ramai dikomentarin netizen. Ini bukan cuman soal Tasya sendiri sih tapi tentang gimana publik menilai seseorang setelah jadi penerima uang negara buat kuliah, dan ekspektasi yang muncul dari sana
Apa yang Sebenernya Tasya Ungkap?
Begini ceritanya beberapa hari lalu, Tasya bikin unggahan Instagram bertajuk “Laporan Kontribusi sebagai Alumni Awardee LPDP”. Ia mengaku unggahan itu bukan buat pamer, tapi lebih ke bentuk transparansi dan tanggung jawab sosial sebagai seseorang yang pernah menerima beasiswa negara. Dalam postingan itu, Tasya mencantumkan rangkaian pencapaian dan aksi yang ia lakukan selama masa bakti LPDP. Beberapa poin dari laporan itu antara lain:
- Pulang ke Indonesia setelah lulus dari Columbia University.
- Kolaborasi dengan kementerian dan lembaga dalam sosialiasasi program pendidikan dan lingkungan.
- Gerakan akar rumput dan edukasi masyarakat soal lingkungan hidup, termasuk menjadi Duta Lingkungan Hidup.
- Memberdayakan pemuda lewat talkshow, seminar, workshop.
- Mengejar lewat platform online dan berkontribusi dalam dunia kreatif.
- Menggunakan media sosial buat berbagi insight tentang parenting dan tumbuh kembang anak, agar bermanfaat buat orang tua lain.
Kalau dipikir-pikir, read more kayak abstrak laporan kerja sosial yaaa, bukan sekadar resume. Ini juga jadi bukti kalau public figure juga bisa bikin laporan kontribusi yang lebih heartfelt daripada sekadar highlight reel Instagram.
Baca juga: Pemkot Surabaya Gandeng 32 Kampus Berikan Beasiswa hingga 24 Ribu Mahasiswa
Kenapa Isu Ini Bisa Viral?
Gini di tengah polemik yang sedang ramai soal salah satu awardee LPDP berinisial DS yang bikin pernyataan viral “cukup aku aja WNI, anak jangan” yang bikin publik heboh, banyak netizen jadi mempertanyakan kontribusi para alumni beasiswa tersebut terhadap negeri. Muncullah pertanyaan kayak:
- Apa kontribusi nyata setelah selesai studi?
- Apa alasan orang pakai duit rakyat buat sekolah luar negeri?
- Apakah alumni LPDP benar-benar kembali dan memberi dampak buat Indonesia?
Dan dari situlah laporan kontribusi Tasya jadi kayak spotlight baik buat dia pribadi, maupun buat diskusi yang lebih besar soal beasiswa publik.
Baca juga: Beasiswa Pemuda Tangguh Surabaya Penyelamat Mimpi Mahasiswa
Reaksi Publik Pro dan Kontra
Begitu laporan itu keluar, enggak semuanya auto applause. Beberapa komentar netizen bilang kontribusi yang disebutkan terlalu sederhana bahkan ada yang bilang itu “mirip kegiatan BEM atau CSR perusahaan,” bukan level return of investment pakai duit pajak. Komentar itu sempat membuat Tasya tersentuh hatinya, dan ia menjawab dengan sangat manusiawi:
“Maaf ya aku belum bisa memenuhi ekspektasi semua orang. Tapi aku tetap semangat untuk terus berdampak baik di setiap pekerjaan yang aku jalani.”
Yang menarik, dia juga menjelaskan bahwa kontribusi itu bukan semata bentuk statistik uang atau nominal, tapi juga kerja kolaboratif, advocacy, dan keterlibatan publik yang kadang gak mudah diukur dengan angka.
Selain itu, laporan kontribusi ini juga bikin diskusi lebih luas soal apa definisi kontribusi yang bermakna, terutama untuk program beasiswa besar yang finansialnya bersumber dari APBN.
Baca juga: Pemkot Surabaya Evaluasi Beasiswa Pemuda Tangguh
Apa Kata Pemerintah dan Aturan LPDP?
Gak cuman publik aja, pemerintah juga ikut nimbrung membahas soal pengabdian alumni LPDP. Misalnya, Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, bilang kalau tujuan LPDP itu adalah investasi jangka panjang di sumber daya manusia, jadi yang penting bukan cuma sekolah luar negeri aja, tapi efek positifnya buat Indonesia.
Selain itu, Direktur Utama LPDP juga sempat menegaskan kewajiban kontribusi itu memang penting karena dana beasiswa pakai uang rakyat, jadi harus memberikan dampak nyata balik ke masyarakat.
Ada juga aturan yang menegaskan kalau alumni yang tidak kembali berkontribusi setelah masa studi bisa dikenai sanksi, termasuk pengembalian dana konteks yang makin memperketat diskusi publik soal ini.
Baca juga: Hafalan Jadi Prestasi! Pemkot Surabaya Buka Beasiswa Penghafal Kitab Suci
Pesan yang Bisa Kita Ambil dari Kisah Ini
Kalau kamu baca keseluruhan cerita ini, sejujurnya ini bukan cuman soal kontribusi Tasya Kamila LPDP aja. Lebih dari itu, ini tentang:
- Transparansi sebagai fitur publik itu penting.
- Kontribusi tidak selalu harus seragam bisa jadi bentuknya beragam
- Diskusi tentang dana publik dan dampaknya perlu ruang diskusi sehat
- Kesalahan komunikasi bisa jadi pemicu salah paham besar.
Dan yang paling penting? Bahwa di balik semua itu, ada sisi manusia bukan sekadar “apa hasilnya?”, tapi juga “apa niat baiknya?” (dny)

