AI Adalah Dajjal? Spill Fakta vs Mitos Eskatologi di Era Digital
Share
SUARAGONG.COM – FOMO Teknologi atau Tanda Kiamat? Lagi rame banget tagar #AIBukanDajjal di medsos. Ternyata, sekitar 62% netizen Muslim khawatir AI bakal gantiin peran manusia, bahkan ada yang beneran percaya kalau algoritma itu manifestasi Dajjal. Apalagi ditambah narasi dari kreator konten kayak “Ustadz AI Hunter” yang bilang “Dajjal punya mata ribuan CCTV”.
Tagar #AIBukanDajjal Ramai Dibahas Netizen: AI Manifestasi Dajjal?
Padahal, kalau kita tarik ke belakang, sejarah selalu punya pola yang sama: tiap ada teknologi baru, pasti muncul narasi kiamat. Dulu mesin tenun dibakar, nuklir dibilang akhir zaman, bahkan internet awal-awal disebut “jebakan setan”. Kenapa kita hobi banget bikin mitos dari hal yang nggak kita pahami?
Cek Spek: Hadits vs Hardware
Mari kita battle secara logis. Dalam hadits sahih, Dajjal itu entitas fisik: bermata buta sebelah, ada tulisan Kafir di dahi, dan muncul dari Timur.
Bandingkan sama AI tahun 2026:
Dajjal: Punya kekuatan supranatural buat ujian akhir zaman.
AI: Cuma transformer neural network yang butuh listrik 10 Gigawatt biar nggak mati lampu. Kalau colokan dicabut, ya kelar.
Dajjal itu ujian iman, sedangkan AI itu hasil kerja keras ribuan engineer di Silicon Valley. Ta’awwudh jelas ampuh buat lindungin hati, tapi nggak bakal ngaruh ke rak server NVIDIA H100 kalau kamu mau matiin sistemnya.
Bukan “Iblis Digital”, Cuma Kalkulator Raksasa
Secara sains, AI itu nggak punya kesadaran atau free will. Dia cuma jagoan dalam urusan statistical pattern recognition. Bayangin AI itu kayak kalkulator yang sangat, sangat canggih. Dia kerja lewat optimasi data 10 petabyte, bukan lewat ruh.
Tokoh-tokoh di baliknya pun jelas: Elon Musk, Sam Altman, atau Sundar Pichai. Modelnya bahkan bisa kamu download gratis di GitHub. Jadi, alih-alih takut sama “iblis digital” yang nggak ada, mending kita waspada sama masalah riil: deepfake yang ngerugiin perempuan atau bias algoritma yang bikin nggak adil.
AI Sebagai “Pedang Saladin” Modern
Daripada terjebak ketakutan irasional, mending kita jadiin AI sebagai alat taqwa. Bayangin kemudahannya:
- QuranBot: Hafalan 100% akurat.
- TafsirGPT: Paham 50 bahasa dalam sekejap.
- ZakatAI: Pastiin distribusi zakat nggak kena fraud.
PBNU bahkan bilang AI itu kayak “Pedang Saladin”—kuat kalau di tangan yang bener. MUI juga sudah ngasih lampu hijau selama datanya halal dan nggak gantiin peran ulama secara esensial.
Baca Juga : Transformasi Akuntansi: Ketika Seni, Teknologi, dan Transisi Energi Bertemu
POV: Cerdas Berteknologi, Tetap Low Profile
Diskusi AI-Dajjal ini sebenernya pengingat buat kita: jangan sampai kemajuan teknologi bikin kita lupa refleksi etis. Perintah pertama dalam Islam itu Iqra! (Baca!). Artinya, kita disuruh melek pengetahuan, bukan malah nutup diri karena takut.
Tantangan sebenernya bukan gimana cara nolak AI, tapi gimana cara kita tetep jaga taqwa di tengah gempuran algoritma. Dunia boleh berubah jadi makin digital, tapi tanggung jawab buat berilmu itu abadi.
Penulis : Indra Lukmana Putra
(Ind/Aye/sg)

