Malang, Suaragong.com – Transformasi birokrasi ternyata bukan cuma soal memindahkan layanan ke aplikasi. Teknologi memang semakin penting, tetapi kualitas aparatur tetap menjadi kunci agar digitalisasi benar-benar berdampak bagi masyarakat.
Sekda Kabupaten Malang Buka Studi Lapangan PKP 2026: Birokrasi Digital Nggak Cukup Cuma Punya Aplikasi!
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, Dr. Ir. Budiar, M.Si., saat menerima sekaligus membuka Studi Lapangan Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (PKP) Angkatan I dan V Tahun 2026 di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Senin (28/9) pagi. Kegiatan tersebut digelar mewakili Bupati Malang.
Sebanyak 62 peserta calon pejabat pengawas dari berbagai instansi dan daerah di Indonesia mengikuti kegiatan ini. Peserta bahkan datang dari wilayah Papua hingga Kota Kendari.
Melalui studi lapangan tersebut, para peserta diajak melihat langsung sejumlah praktik inovasi, digitalisasi pelayanan, serta pengelolaan sumber daya aparatur yang diterapkan Pemkab Malang.
Dari Era Digital 4.0 menuju Society 5.0
Sekda Kabupaten Malang mengatakan, perkembangan teknologi membuat birokrasi memasuki fase baru, dari era digital 4.0 menuju Society 5.0. Kondisi itu harus diikuti perubahan pola pikir dan pola kerja aparatur.
“Pelayanan publik saat ini tidak cukup hanya mengandalkan aplikasi. Yang paling penting adalah bagaimana sumber daya manusia mampu menguasai teknologi, beradaptasi dengan perubahan, sekaligus memiliki kemampuan mengelola dan mengembangkan talenta yang ada,” ujarnya.
Inovasi SIPANJI Bapenda Kabupaten Malang
Salah satu inovasi yang dipaparkan adalah SIPANJI (Sistem Informasi Pendapatan Daerah Malang) milik Bapenda Kabupaten Malang. Sistem ini dikembangkan untuk mendukung pemungutan pajak daerah agar lebih transparan, terintegrasi dan akuntabel.
Digitalisasi sistem pembayaran tersebut turut disebut berkontribusi terhadap peningkatan PAD Kabupaten Malang yang kini mencapai sekitar Rp1,2 triliun. Pemkab menargetkan angka tersebut meningkat hingga Rp1,5 triliun pada tahun mendatang.
Selain sektor pendapatan, peserta juga mendapat pemaparan mengenai Manajemen Talenta dari BKPSDM. Pemanfaatan aplikasi, termasuk iMood, digunakan untuk mendukung pengelolaan kinerja serta pemetaan kompetensi pegawai.
Ada pula program “Jebol Anduk” atau Jemput Bola Administrasi Kependudukan yang dirancang untuk mendekatkan layanan dokumen kependudukan kepada masyarakat.
Di bidang pendidikan, Pemkab Malang memanfaatkan data Dapodik dan variabel demografis sebagai salah satu dasar penempatan guru. Sementara pusat kendali data terpadu dimanfaatkan untuk memantau sejumlah isu strategis seperti stunting, kemiskinan dan Anak Tidak Sekolah (ATS).
Berbagai inovasi tersebut kemudian menjadi bahan diskusi bersama peserta. Salah satunya Muhammad Ridwan Aknan dari Rutan Kelas IIB Una Kendari yang menggali penerapan integritas serta sistem penghargaan atau reward bagi aparatur yang berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan daerah.
Menjadi Ilmu dan Bahan Riset Kedepannya
Menutup kegiatan, Sekda Kabupaten Malang berpesan agar studi lapangan tidak berhenti sebagai kegiatan melihat dan mendengar. Para peserta diharapkan membawa pulang pengetahuan, inspirasi, sekaligus keberanian untuk melakukan pembenahan di instansi masing-masing.
“Tiga hal yang kami harapkan bisa dibawa pulang dari Kabupaten Malang, yaitu pengetahuan yang konkret, inspirasi yang dapat diterapkan, serta keberanian untuk melakukan pembenahan pelayanan publik,” pungkasnya. (Aye/sg)










