SUARAGONG.COM – Waspada, Bungkus seblak dan Es Teh mu bisa mahal gara-gara plastik diprediksi bakal naik. Setelah urusan minyak dan LPG, sekarang giliran industri plastik yang lagi “ketar-ketir”. Gara-gara kesepakatan AS dan Iran gagal total, jalur Selat Hormuz makin panas, dan efek dominonya sampai ke harga plastik di Indonesia. Tapi tenang, pemerintah nggak tinggal diam!. Menperin Siapkan Subsidi Plastik Biar Industri Gak Kena Mental Gara-Gara Konflik Selat Hormuz
Harga Plastik Mencekik! Menperin Siapkan “Payung” Subsidi buat IKM
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengungkapkan kalau pemerintah lagi nyiapin berbagai skenario biar industri plastik kita nggak tumbang. Salah satu opsi paling mantap adalah pemberian subsidi, terutama buat Industri Kecil dan Menengah (IKM).
“Pemerintah akan terus-menerus mencari upayanya subsidinya seperti apa,” ujar Pak Agus di JIEXPO Kemayoran (15/4/2026). Intinya, pemerintah pengen jagain harga (pricing) dan stok barang biar nggak langka di pasar.
Diversifikasi Bahan Baku: Gak Cuma Ngandelin Timur Tengah!
Selama ini, bahan baku utama plastik (Nafta) emang banyak banget bergantung sama pasokan dari Timur Tengah. Karena jalur di sana lagi “ngeri-ngeri sedap”, Menperin sudah mulai komunikasi sama negara-negara alternatif buat cari pasokan baru. Walaupun belum di-spill negaranya mana aja, yang jelas kita lagi cari sumber yang lebih aman.
Baca Juga : Plastik Mencekik, Harga Air Mineral Terancam Naik!
Inaplas Mulai Lirik Amerika Hingga Kondensat Lokal
Asosiasi Industri Plastik (Inaplas) juga nggak mau kalah sat-set. Sekjen Inaplas, Fajar Budiono, bilang kalau mereka sudah mulai cari alternatif Nafta sampai ke Amerika Serikat! Tapi ya gitu, tantangannya adalah jaraknya jauh, jadi waktu pengirimannya lebih lama.
Selain itu, mereka lagi melirik bahan substitusi lain yang ada di dalam negeri:
- Kondensat Lokal: Lagi dihitung-hitung berapa banyak yang bisa dipakai dari sumber kayak Donggi Senoro.
- LPG: Juga dijajaki buat jadi bahan baku pengganti.
Indonesia Punya Mental Juara!
Pak Agus optimistis industri nasional kita kuat banget. Belajar dari zaman pandemi Covid-19 kemarin, industri kita terbukti punya daya tahan alias resiliensi yang tinggi. Masalah kelangkaan bahan baku ini emang fenomena global, tapi kita yakin bisa pulih lebih cepat dibanding negara lain.
“Yang menghadapi masalah supply dan market itu bukan cuma Indonesia,” tegas Pak Agus. Jadi, kita nggak sendirian, Sob! (Aye/sg)






