SUARAGONG.COM – Roda perputaran harga bahan pangan di pasar tradisional dan toko buah kawasan Kabupaten Malang kembali mengalami pergeseran. Setelah program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan untuk sementara waktu, harga sejumlah komoditas buah – buahan, terutama buah lokal di malang dilaporkan mulai bergerak turun dan berangsur stabil.
Usai MBG Berhenti Sementara, Harga Buah Lokal di Malang Langsung “Goyang”
Pantauan di lapangan menunjukkan ketersediaan stok buah di pasaran kini tergolong aman dengan konsistensi harga yang cukup baik bagi konsumen. Lantaran pasokan dari petani lokal langsung terserap sepenuhnya oleh pasar umum.
Semangka dan Melon Turun Drastis dari Harga Puncak
Berhentinya program MBG untuk sementara waktu diakui membawa dampak instan terhadap grafik harga buah. Saat program tersebut berjalan, jalur distribusi buah diduga kuat berbelok untuk memenuhi kebutuhan kuota MBG terlebih dahulu sebelum masuk ke pasar umum. Sehingga memicu kelangkaan stok dan lonjakan harga hingga 50 persen.

Nilma, salah satu pemilik toko buah di Kepanjen, Kabupaten Malang, membeberkan secara detail fluktuasi harga yang dialaminya selama program nasional tersebut berlangsung.
“Harga Semangka yang sekarang turun mas dari pada yang kemarin pas MBG, waktu itu naik 17 Ribu perkilonya. Melon juga naik pernah 25 ribu, tapi itu naik turun juga di tiap minggunya,” jelas Nilma.
Sebagai perbandingan, saat pasokan tersedot ke program MBG, harga semangka yang normalnya berkisar di angka Rp11.000 sempat melambung hingga Rp17.000 per kilogram. Begitu pula dengan melon yang meroket dari harga normal Rp17.000 menjadi Rp25.000 per kilogram.
Mengingat program ini bersifat dinamis, Nilma memprediksi bahwa ke depan harga buah masih berpotensi kembali fluktuatif. Selain faktor musiman, kelanjutan program MBG dinilai akan sangat memengaruhi kestabilan harga pasar. Di sisi lain, untuk komoditas buah non-musiman seperti apel serta beberapa jenis buah impor, harganya dipantau tetap stabil.
Imbas ke Sektor Sayur dan Catatan Evaluasi MBG
Dampak dari dinamika ini ternyata tidak hanya mengunci sektor buah-buahan. Nilma, yang juga berperan sebagai seorang ibu rumah tangga, menceritakan bahwa harga sejumlah kebutuhan dapur di pasar tradisional sempat ikut terkerek naik. Terutama untuk jenis sayuran hijau.
“Saya kepasar pas itu juga beberapa sayur2 naik mas, kayak kangkung, yang 1 ikatnya itu seribu jadi 3 ribu,” curhat Nilma, sembari menambahkan bahwa sayur hijau lain yang biasa dijual Rp2.000 sempat melonjak hingga Rp3.000 – Rp4.000 per ikat.
Melihat dampak berantai tersebut, ia berpendapat bahwa ke depannya pelaksanaan program MBG harus dievaluasi agar lebih tepat sasaran. Khususnya difokuskan bagi anak-anak atau orang tua dari kalangan yang kurang mampu.
Baca Juga : Ketua DPRD Kota Malang Dorong Evaluasi Program MBG
Kriteria MBG: Barang Bagus tapi Harga Miring
Konfirmasi serupa juga datang dari pihak eksternal pelaku usaha buah di Kepanjen, yakni ABS Kepanjen. Mereka mengamini bahwa skema pengadaan MBG memberikan pengaruh atau dampak yang signifikan terhadap struktur harga eceran buah di tingkat pedagang.

Albet, salah seorang karyawan di unit usaha tersebut, menjelaskan bahwa tren penurunan harga pasca-berhentinya MBG terasa pada komoditas anggur, semangka, melon, serta jenis buah potong lainnya. Di tengah tren penurunan ini, hanya komoditas kelengkeng yang terpantau masih langka dan harganya bertahan tinggi di angka Rp70.000 per kilogram.
Menurut Albet, besarnya pengaruh program terhadap harga pasar disebabkan oleh standar spesifikasi yang diterapkan oleh pengelola program nasional tersebut.
“Iya mas berdampak, MBG Mintanya barang kualitas apik tapi harga miring, jadi ke harga buah juga ngaruh,” pungkas Albet. (Aye/sg)










