Sepekan Penuh Prestasi di Jember: Dari “Wadul” Warga hingga Perempuan Berdaya

Di balik sepekan penuh penghargaan, Jember mencuri perhatian lewat pelayanan publik humanis, hingga pemberdayaan perempuan
Di balik sepekan penuh penghargaan, Jember mencuri perhatian lewat pelayanan publik humanis, hingga pemberdayaan perempuan

SUARAGONG.COM – April 2026 jadi momen yang nggak bakal gampang dilupakan warga Jember. Dalam sepekan, deretan prestasi berhasil diraih. Tapi di balik piala dan penghargaan itu, ada cerita yang lebih dalam: tentang pelayanan yang benar-benar “memanusiakan manusia”.

Sepekan Penuh Prestasi di Jember: Dari “Wadul Gus E” hingga Perempuan Berdaya

Semuanya prestasi dalam sepekan ini dimulai dari Surabaya, saat Bupati Jember, Gus Fawait, naik panggung menerima penghargaan sebagai Tokoh Layanan Publik di ajang PWI Jatim Award. Tapi bukannya larut dalam euforia, pikirannya justru melayang ke desa-desa di kaki Gunung Argopuro.

Di sana, program “Peta Cinta” berjalan. Program ini sederhana tapi berdampak besar: bayi yang baru lahir langsung dapat akta, lansia dipermudah bikin KTP, tanpa harus repot ke kota.

“Pelayanan publik itu bukan soal aplikasi canggih, tapi soal hadir saat rakyat butuh,” ungkap Gus Fawait.

Curhat Bersama Gus Fawait Lewat Program “Wadul Gus’e”

Salah satu inovasi yang cukup relate dengan warga adalah “Wadul Gus’e”. Lewat kanal ini, masyarakat bebas curhat—mulai dari jalan rusak sampai biaya sekolah. Menariknya, laporan itu nggak cuma didengar, tapi langsung ditindaklanjuti.

Beberapa hari berselang, Jember kembali dapat pengakuan, kali ini di HUT ke-20 Beritajatim.com. Daerah ini disebut jadi salah satu yang terdepan dalam pengentasan kemiskinan.

Kuncinya? Bukan sekadar program besar, tapi keberanian untuk turun langsung ke lapangan. Gus Fawait bahkan memastikan datanya valid dengan melihat kondisi nyata warga, termasuk isi piring makan mereka.

Dari situ, kebijakan jadi lebih tepat sasaran. Anggaran nggak terbuang percuma, dan program bisa benar-benar dirasakan manfaatnya.

Di sisi lain, cerita inspiratif juga datang dari Ning Ghyta Eka Puspita di Jakarta. Lewat program “Mlijo Cinta”, ia mengubah cara pandang terhadap peran perempuan, khususnya di lingkup PKK.

Baca Juga : Gus Fawait Teguhkan Jember sebagai Miniatur Indonesia

PKK Penggerak Roda Ekonomi Keluarga

Kalau dulu identik dengan kegiatan rutin, kini PKK diarahkan jadi motor penggerak ekonomi keluarga. Para perempuan diberi akses modal dan pelatihan UMKM, sehingga bisa mandiri secara finansial.

Efeknya nggak main-main. Ketika ekonomi keluarga membaik, kebutuhan gizi anak ikut terpenuhi. Dampaknya, angka stunting di Jember pun berhasil ditekan.

“Kalau perempuan kuat, keluarga juga kuat. Dari situ Jember bisa maju,” kata Ning Ghyta.

Deretan penghargaan ini akhirnya bukan cuma soal prestasi di atas kertas. Lebih dari itu, ini tentang gerakan bersama—dari desa sampai kota, dari laki-laki hingga perempuan—yang sama-sama ingin membuat Jember jadi tempat yang lebih manusiawi.

Dan mungkin, inilah alasan kenapa nama Jember kini semakin sering diperhitungkan: bukan karena kemewahan, tapi karena kepeduliannya pada warganya. (Adv/Rio/Aye)

Exit mobile version