SUARAGONG.COM – Ada yang beda dari kegiatan pendidikan sekolah di Trenggalek belakangan ini, Nggak cuma belajar di kelas, para siswa juga mulai diajak turun langsung ke “dunia pertanian” lewat program swasembada pangan berbasis sekolah.
Program Swasembada Pangan Masuk Sekolah, Siswa Trenggalek Diajak Bertani Sejak Dini
Program ini mendapat dukungan penuh dari Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin. Bahkan, Mas Ipin—sapaan akrabnya—turun langsung mendampingi kunjungan Yayasan Swatantra Pangan Nusantara saat pembagian bibit dan pupuk di sejumlah sekolah di Kecamatan Gandusari.
Kegiatan ini jadi langkah awal buat ngenalin konsep ketahanan pangan sejak dini. Jadi, siswa nggak cuma paham teori, tapi juga praktik langsung menanam dan merawat tanaman mereka sendiri.
“Sejak kecil harus diajari tanggung jawab. Mereka tanam, mereka rawat, dan nanti juga mereka yang menikmati hasilnya,” ujar Mas Ipin, Kamis (23/4/2026).
Bertani Sejak Dini: Edukasi Sayuran Hingga Tanaman Hortikultura
Lewat program ini, siswa diajak bercocok tanam menggunakan media sederhana seperti polibag. Tanaman yang ditanam pun beragam. Mulai dari sayuran hingga tanaman hortikultura. Nggak ketinggalan, konsep pertanian organik juga ikut dikenalkan supaya lebih ramah lingkungan.
Mas Ipin juga menyoroti pentingnya mengubah pola pikir generasi muda soal pertanian. Menurutnya, selama ini ada anggapan kalau sekolah tinggi berarti harus menjauhi profesi petani. Padahal, sektor pangan justru jadi salah satu kunci masa depan bangsa.
“Kita ingin merevolusi mindset. Pangan itu adalah harga diri bangsa. Jangan sampai kita bergantung pada negara lain,” tegasnya.
Baca Juga : GMNI Trenggalek Gelar Aksi Perbaiki Pendidikan
Pengembangan Gizi Lebih Baik
Lebih dari sekadar program, Pemkab Trenggalek ingin menjadikan swasembada pangan ini sebagai gerakan bersama. Nggak cuma tanaman, tapi juga pengembangan sumber protein seperti budidaya ikan skala sekolah.
Menariknya lagi, program ini juga dikaitkan dengan solusi menghadapi ancaman kekeringan. Mengingat prediksi dari BMKG yang menyebutkan potensi kemarau cukup parah tahun ini, Pemkab Trenggalek mulai menyiapkan inovasi teknologi sederhana untuk memenuhi kebutuhan air.
Salah satunya dengan memanfaatkan sistem kondensasi yang bisa mengubah uap air menjadi air siap pakai. Teknologi ini diharapkan bisa membantu daerah-daerah yang selama ini langganan kekeringan.
Soalnya, setiap musim kemarau, ada sekitar 90 sampai 100 desa di Trenggalek yang terdampak kekeringan. Bahkan, BPBD sering kewalahan harus bolak-balik kirim bantuan air bersih ke warga.
Mas Ipin pun menegaskan, ke depan anggaran akan lebih difokuskan pada solusi jangka panjang daripada bantuan yang sifatnya sementara.
“Daripada habis untuk sesuatu yang langsung hilang, lebih baik kita invest ke solusi yang bisa dipakai terus. Harapannya, tiap rumah bisa produksi air sendiri,” pungkasnya. (Mila/Aye/sg)
