SUARAGONG.COM – Coba tengok sekeliling saat berjalan di Kota Malang. Ada singa yang berdiri gagah di depan Stasiun Kotabaru. Ada singa yang tersemat di kaos, di kaca mobil, di gapura kampung, dan tentu saja di dada jersi Arema FC. Bagi orang luar, itu mungkin sekadar identitas visual sebuah kota atau maskot klub sepak bola. Tapi bagi Arek Malang, singa bukan gambar yang dipilih asal-asalan. Ia adalah jejak DNA kultural yang diwariskan turun-temurun sejak delapan abad silam. Jauh sebelum kata “branding” dan “logo” dikenal manusia modern.
Singa yang Hidup Bersama Masyarakat Malang
Untuk memahami mengapa satu ekor singa bisa begitu melekat pada identitas sebuah kota, kita perlu menyusuri kembali jejaknya:
- Dari singgasana kerajaan kuno,
- Ukiran batu candi,
- Meja rancang pemerintah kolonial,
- Hingga tribun penuh suporter di Stadion Kanjuruhan.
Dari Tumapel ke Singhasari: Nama yang Lahir dari Ambisi
Kisahnya dimulai jauh sebelum tahun 1222 Masehi, ketika sebuah wilayah kecil bernama Tumapel masih tunduk sebagai daerah bawahan Kerajaan Kediri di bawah kekuasaan seorang akuwu bernama Tunggul Ametung. Riwayat berubah drastis ketika Ken Arok — sosok yang menurut naskah kuno Pararaton berasal dari kalangan rakyat jelata — membunuh Tunggul Ametung, memperistri Ken Dedes. Lalu menaklukkan Kediri dalam Pertempuran Ganter. Dari kemenangan itulah lahir sebuah kerajaan baru yang berdaulat penuh, dengan Ken Arok bertakhta sebagai raja pertama bergelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi.
Kerajaan baru ini lantas dikenal dengan nama Singhasari, diambil dari nama ibu kotanya sendiri. Secara etimologi Sanskerta, nama ini adalah gabungan dua kata sarat makna: singha yang berarti singa, dan sari. Yang mana bisa dimaknai sebagai inti, esensi, atau bunga teratai. Maka Singhasari boleh diterjemahkan sebagai “Inti dari Singa” — sebuah nama yang sengaja dipilih bukan tanpa alasan, melainkan sebagai pernyataan sikap. Di tengah lanskap politik Jawa abad ke-13 yang penuh gejolak perebutan kekuasaan, nama ini adalah proyeksi kekuatan dan kedaulatan yang bukan main.
Yang menarik, kerajaan ini hidup dalam intrik berdarah generasi demi generasi. Ken Arok sendiri tewas dibunuh oleh Anusapati, anak tirinya, hanya lima tahun setelah naik takhta. Rangkaian pembunuhan berantai ini terus berlanjut hingga akhirnya Singhasari mencapai puncak kejayaannya di bawah Raja Kertanegara. Sosok yang dikenal berani menantang ekspansi Kekaisaran Mongol, sebuah keberanian yang kelak menjadi salah satu benang merah karakter yang diklaim melekat pada masyarakat Malang hingga hari ini.
Jejak di Atas Batu: Singa dalam Ukiran Candi
Menariknya, singa sejatinya bukan hewan asli Pulau Jawa. Namun para pemahat Malang di abad ke-13 sudah begitu akrab memvisualisasikan hewan ini dalam karya seni mereka. Sebuah bukti kuat betapa mendalamnya pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha dari India yang dibawa masuk dan diinternalisasi menjadi bahasa visual lokal.
Jejak itu masih bisa disaksikan langsung hari ini di dua candi peninggalan era Singhasari, keduanya berada di kawasan Tumpang, Kabupaten Malang:
- Candi Kidal menampilkan pahatan figur singa dalam posisi menopang struktur bangunan, sebuah simbolisasi kekuatan fondasi sekaligus penjaga spiritual candi.
- Candi Jago memuat relief singa dalam fragmen cerita fabel kuno, menggambarkan sosok singa sebagai raja hutan yang bijaksana sekaligus disegani.
Bagi para peneliti purbakala, kehadiran figur singa pada masa itu bukan sekadar hiasan estetis, melainkan representasi perlindungan spiritual dari kekuatan negatif. Sebuah keyakinan yang, secara tidak langsung, ikut membentuk cara masyarakat lokal memandang singa sebagai simbol pelindung, bukan sekadar predator buas.
Baca Juga : Launching Logo HUT ke-1266 Kabupaten Malang: “Malang Makmur Berdaya Saing”
Ketika Belanda Ikut Mengadopsi Sang Singa
Runtuhnya sebuah kerajaan biasanya berarti tenggelamnya pula simbol-simbol yang menyertainya. Tapi tidak dengan singa Malang. Enam abad kemudian, simbol ini justru dihidupkan kembali oleh tangan yang tidak terduga: pemerintah kolonial Belanda.
Malang resmi berstatus gemeente atau kota praja mandiri sejak 1 April 1914 — tanggal yang hingga kini diperingati sebagai hari jadi Kota Malang. Namun lambang resmi kotanya baru benar-benar dirancang beberapa tahun setelahnya. Lambang pertama diperkenalkan pada 17 Juni 1921, lalu disempurnakan dan baru ditetapkan secara resmi pada 1937 di masa kepemimpinan Wali Kota J.H. Boerstra.
Wujudnya sarat simbolisme: sepasang singa Belanda (De Nederlandsche Leeuw) berwarna kuning emas berdiri gagah mengapit sebuah perisai biru bermahkota. Di tengah perisai itu terlukis seekor singa kecil berdampingan dengan setangkai bunga teratai putih — yang jika dua elemen itu digabungkan, singa (singha) dan bunga (sari), akan kembali membentuk satu kata: Singhasari. Seorang sejarawan Belanda dari Batavia, Frederik de Haan, bahkan menambahkan semboyan berbahasa Latin pada lambang tersebut:
Malang Nominor, Sursum Moveor — yang secara bebas berarti “Malang Namaku, Maju Tujuanku.”
Rancangan ini sempat menuai perdebatan panjang dengan Hooge Raad van Adel (Dewan Tinggi Kebangsawanan) di Belanda, yang menolak beberapa elemen mahkota bergaya lokal karena dianggap tidak sesuai kelaziman lambang-lambang kota di Eropa.
Namun satu hal tidak pernah diperdebatkan: kehadiran sang singa sebagai elemen inti, sebuah pengakuan tak langsung bahwa reputasi Malang. Mencerminkan sebagai wilayah kuat dan berwibawa sejak zaman kuno memang layak diabadikan. Bahkan oleh penguasa kolonial sekalipun.
Menariknya, lambang kota ini sempat berganti wajah lagi setelah Indonesia merdeka. Sepasang singa pada perisai kemudian digantikan burung garuda, sementara singa di dalam perisai berubah menjadi harimau. Meski unsur bunga teratai tetap dipertahankan sebagai penanda kesinambungan sejarah.
Singo Edan: Ketika Nama Kuno Bereinkarnasi di Lapangan Hijau
Simbol yang telah tidur panjang dalam catatan sejarah itu akhirnya “bangun” kembali dengan cara yang paling emosional bagi masyarakat modern: sepak bola.
Pada 11 Agustus 1987, klub Arema FC lahir di Malang dan langsung mengadopsi julukan yang begitu lekat hingga kini: Singo Edan, atau dalam bahasa Jawa berarti “Singa Gila” — merepresentasikan keberanian tanpa kompromi. Julukan ini bukan sekadar strategi branding klub olahraga biasa. Ia menyerap begitu cepat dan mendalam ke dalam sanubari masyarakat karena, secara sadar atau tidak, telah tersambung dengan memori kolektif yang terjaga sejak era Singhasari hingga era kolonial.
Para peneliti sosial dari sejumlah universitas di Malang menyebut fenomena ini sebagai bentuk kolektivitas identitas. Di mana julukan modern berhasil “menemukan rumahnya” karena jejak historisnya sudah lama tertanam. Setidaknya ada tiga karakter yang oleh masyarakat setempat kerap diasosiasikan dengan jiwa “Singo Edan”:
- Egaliter — layaknya singa yang hidup berbaur setara dalam kawanannya (pride) tanpa sekat kasta.
- Solidaritas tinggi — ikatan kekeluargaan yang defensif ketika salah satu anggota kelompok diganggu.
- Lugas dan berani — tercermin dari boso walikan, dialek unik khas Malang yang lahir dari semangat perlawanan. Serta mentalitas pantang menyerah yang dikenal luas pada perantau asal Malang.
Bukan Sekadar Logo, Melainkan Wasiat Sejarah
Menyusuri kembali jejak ini, tergambar jelas bahwa simbol singa Arek Malang bukan produk desain grafis satu generasi. Ia adalah rantai panjang yang menyambungkan ambisi seorang Ken Arok mendirikan kerajaan, keberanian Kertanegara menantang Mongol, ukiran tangan pemahat Candi Kidal dan Jago, kalkulasi politik pemerintah kolonial Belanda, hingga teriakan lantang suporter di tribun Kanjuruhan hari ini.
Ketika seorang Arek Malang mengenakan atribut bergambar singa, ia sesungguhnya sedang mengenakan potongan sejarah delapan abad. Sebuah pengingat bahwa keberanian, solidaritas, dan harga diri bukanlah nilai yang lahir kemarin sore, melainkan warisan yang terus dijaga agar tetap menyala dari generasi ke generasi. (Aye/Sg)










