Type to search

Gaya Hidup Kuliner Malang

Disporbudpar Malang Dorong Soto Kambing Jadi Warisan Budaya Tak Benda Lewat Buku Semangkuk Lumintu Ing Brantas

Share
Kabid Kebudayaan Disporbudpar Kabupaten Malang, Hartono, SAP, mengapresiasi bedah buku Semangkuk Lumintu Ing Brantas

SUARAGONG.COM – Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporbudpar) Kabupaten Malang mengapresiasi hadirnya buku Semangkuk Lumintu Ing Brantas, karya Ary Budiyanto dan Nedi Putra AW, yang mengulas secara mendalam kisah panjang Soto Kambing Malang.

Bedah Buku Soto Kambing Malang “Semangkuk Lumintu Ing Brantas”: Disporbudpar Siap Ajukan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Apresiasi tersebut disampaikan Kepala Bidang Kebudayaan Disporbudpar Kabupaten Malang, Hartono, SAP, usai mengikuti bedah buku yang digelar di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB), Kamis (6/2/2026) pukul 14.00 WIB.

Hartono menilai karya tersebut menjadi langkah penting dalam upaya pemajuan kebudayaan, khususnya di sektor gastronomi yang masuk dalam kategori warisan budaya.

Bedah Buku Soto Kambing Malang "Semangkuk Lumintu Ing Brantas":

Bedah Buku Soto Kambing Malang “Semangkuk Lumintu Ing Brantas” (Aye)

Soto Kambing Malang Siap Diajukan sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Hartono mengatakan, Disporbudpar telah berkomunikasi dengan penulis buku untuk mendorong Soto Kambing Malang agar didaftarkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Kabupaten Malang.

“Ini adalah warisan budaya yang lahir dan turun-temurun. Dari leluhur sudah ada ramuan dan resepnya. Nah, ini yang harus kita lakukan pelestarian,” ujarnya.

Menurutnya, Soto Kambing Malang berpotensi besar menjadi ikon sekaligus identitas daerah. Bahkan, proses pendaftaran sebagai WBTb telah mulai dilakukan.

“Kalau ini sudah ditetapkan, maka akan menjadi identitas Kabupaten Malang. Selanjutnya bisa kita manfaatkan dan lestarikan,” tambah Hartono.

Ungkap Jejak Sejarah hingga Karakteristik Soto Kambing

Dalam bedah buku tersebut, Hartono mengaku mendapatkan banyak wawasan baru, termasuk jejak sejarah Soto Kambing yang disebut memiliki pengaruh dari budaya Tiongkok, namun telah mengalami proses panjang hingga memiliki karakter khas Malang.

“Sudah berapa masa demi masa, akhirnya terbentuk karakteristik sendiri. Ramuannya juga berkembang, dan kebanyakan sekarang ada di wilayah Kabupaten Malang,” katanya.

Ia menilai buku ini sangat relevan dengan kondisi saat ini, karena kuliner mampu menjadi daya tarik destinasi wisata.

“Kalau kita ngomong bakso Malang, orang langsung ingat Malang. Nah, kalau Soto Kambing ini ditetapkan, itu juga bisa menjadi identitas daerah,” jelasnya.

Baca Juga :Disporbudpar Malang Dorong Soto Kambing Jadi Warisan Budaya Tak Benda Lewat Buku Semangkuk Lumintu Ing Brantas

Literasi Kuliner Jadi Arsip Budaya untuk Generasi Mendatang

Hartono menegaskan pentingnya kegiatan bedah buku dan dokumentasi budaya seperti ini untuk terus digalakkan. Ia menyebut Kabupaten Malang memiliki empat kultur besar, yakni Tengger, Arek, Mataraman, dan Dalungan.

Sayangnya, banyak kekayaan budaya masih bersifat tutur dan belum terdokumentasi dengan baik.

“Budaya kita kuat di cerita lisan, tapi lemah di tulisan. Dengan buku ini, ada catatan sejarah. Bahkan 100 tahun lagi, buku ini masih bisa bercerita kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Ia berharap buku Semangkuk Lumintu Ing Brantas dapat menjadi sumber literasi sekaligus objek penelitian bagi generasi mendatang, agar masakan tradisional tidak tergerus oleh kuliner modern.

“Masakan tradisional jangan sampai kalah dengan hamburger. Saya yakin warisan nenek moyang kita itu lebih adiluhung,” tegas Hartono.

Harapan Jadi Dapur Budaya Dunia

Hartono juga menyinggung pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut Indonesia sebagai “dapurnya budaya dunia”, karena kekayaan tradisi yang sangat beragam.

“Tidak ada bangsa yang budayanya sebanyak Indonesia. Maka kuliner seperti Soto Kambing Malang ini harus kita jaga bersama,” pungkasnya. (Aye/sg)

Tags:

You Might also Like