Type to search

Probolinggo

Kotak Baca Taman Maramis Probolinggo Kecil Tapi Nendang

Share
kotak baca Taman Maramis Probolinggo

SUARAGONG.COM – Siapa sangka, nongkrong sore di taman sekarang gak cuma soal jajan cilok atau lari-lari kecil. Di Taman Maramis, Kelurahan Mayangan, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, ada pemandangan baru yang bikin suasana makin beda: sebuah kotak baca Taman Maramis Probolinggo berdiri manis di tengah taman yang rindang.

Ukurannya memang cuma sekitar 30 x 30 cm. Kecil, simpel, gak ribet. Tapi isinya? Penuh makna. Ada 29 buku, mayoritas buku anak seperti novel ringan dan buku bergambar. Cocok banget buat bocil sampai pelajar yang lagi main sore terus kepikiran, “Eh, baca bentar ah.”

Dan jujur aja, di tengah gempuran gadget dan scroll tanpa henti, kehadiran kotak baca ini terasa kayak oase kecil buat literasi.

Kotak Baca Taman Maramis Probolinggo Ide Sederhana Tapi Ngena

Di balik hadirnya kotak baca Taman Maramis Probolinggo, ada sosok Wulandari (39), warga Jalan Cokroaminoto, Kelurahan Kanigaran, Kecamatan Kanigaran. Ide ini lahir bukan karena proyek besar atau program resmi yang ribet, tapi dari keresahan sederhana minat baca anak-anak makin turun.

“Jadi untuk ide awal pembuatan kotak buku literasi ini dari kebiasaan orang luar negeri yang menaruh buku di kotak depan rumahnya. Dari situlah saya kemudian mencobanya di Taman Maramis,” ujar Wulandari, Sabtu (28/2/2026).

Konsepnya simpel buku ditaruh di ruang publik, siapa pun boleh baca. Gak harus daftar, gak harus formal kayak di perpustakaan. Datang, ambil buku, duduk di bangku taman, baca. Selesai.

Wulandari melihat Taman Maramis sebagai spot strategis. Tiap sore dan akhir pekan, taman ini selalu rame keluarga dan anak-anak. Daripada cuma main atau lari-larian, kenapa nggak sekalian kenalan sama buku?

Baca juga: Diguyur Hujan Deras Jalan Penghubung Kotaanyar Pakuniran Terputus

Bikin Taman Jadi Tempat Nongkrong Sekaligus Literasi

Biasanya taman identik sama jogging track, wahana main anak, atau tempat pacaran tipis-tipis. Tapi lewat kotak baca Taman Maramis Probolinggo, taman bisa naik level jadi ruang literasi terbuka.

Anak-anak bisa duduk di rerumputan, buka buku cerita bergambar sambil kena angin sore. Suasananya santai, gak tegang, gak kaku. Membaca jadi terasa fun, bukan kewajiban.

Dan ini penting banget. Karena kadang yang bikin anak malas baca itu bukan bukunya, tapi suasananya yang terlalu formal. Dengan konsep outdoor kayak gini, membaca terasa lebih natural.

Perlahan tapi pasti, kebiasaan kecil ini bisa ngebentuk budaya literasi. Gak instan, tapi konsisten.

Baca juga: Banjir Rendam Lima Kecamatan, Pemkab Kabupaten Probolinggo Turun Tangan

Didukung DLH Kota Probolinggo

Supaya semuanya tertata rapi, Wulandari nggak asal naro kotak baca. Ia lebih dulu minta izin ke Pemerintah Kota Probolinggo lewat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk menentukan titik lokasi. Hasilnya? Gak cuma diizinkan, DLH juga bantu teknis penempatan dan pengawasan.

Kolaborasi ini jadi bukti kalau gerakan kecil dari warga bisa banget disupport pemerintah. Gak harus nunggu program gede dengan anggaran miliaran dulu buat mulai gerakan literasi. Kadang yang dibutuhkan cuma ruang, izin, dan kepercayaan.

Baca juga: Anak Hanyut di Paiton Bupati Probolinggo Turun Langsung Dampingi Keluarga Korban

Modal Jualan Kaos Bukan Dana Hibah

Yang bikin makin salut, pendanaan kotak baca Taman Maramis Probolinggo ini bukan dari sponsor besar atau bantuan dana resmi.

“Berbeda dengan kotak baca di Taman Semeru yang menggunakan dana pribadi, kotak baca di Taman Maramis mulai dari pembuatan kotak hingga pembelian buku berasal dari keuntungan penjualan kaos yang saya jual melalui media sosial,” jelas Wulandari.

Yes, dari jualan kaos. Artinya, ini murni hasil kreativitas dan kemandirian. Keuntungan bisnis kecil diputar lagi buat kepentingan sosial. Gak banyak drama, nggak banyak pencitraan. Gerakan literasi bisa banget dimulai dari hal kecil yang kita punya.

Baca juga: Aksi Relawan Muda Probolinggo Saat Banjir Kraksaan

Tantangan Nyata Buku Hilang

Tapi namanya juga fasilitas umum, pasti ada aja tantangannya. Risiko buku hilang sudah jadi konsekuensi. Di kotak baca Taman Semeru yang lebih dulu berdiri, tercatat sudah 66 buku hilang dalam setahun. Lumayan banget, kan?

Kalau buku terus berkurang tanpa kembali, lama-lama koleksi habis. Padahal stok buku juga terbatas.

“Harapan kami, buku-buku yang saya letakkan tidak dicuri lagi. Karena jika ini terus terjadi, maka stok buku yang saya punya tidak bisa mengisi kembali kotak baca, khususnya yang ada di Taman Semeru,” ujarnya.

Kalimat itu simpel, tapi ngena. Gerakan kayak gini memang butuh kesadaran bareng. Kalau mau fasilitasnya tetap ada, ya harus dijaga sama-sama.

Baca juga: Usai Koper Seorang Turis Raib Pengamanan Bromo Diperkuat Total

Kotak Kecil Dampak Gak Kecil

Kehadiran kotak baca Taman Maramis Probolinggo ini nunjukin satu hal perubahan nggak selalu datang dari hal besar. Di era digital yang serba cepat, buku fisik tetap punya tempat. Sentuhan kertas, ilustrasi warna-warni, aroma buku baru itu pengalaman yang nggak bisa digantikan layar.

Yang lebih penting lagi, ini bukan cuma soal baca buku. Ini soal membangun kebiasaan. Soal ngenalin anak-anak ke dunia imajinasi. Soal bikin taman gak cuma jadi tempat lewat, tapi tempat bertumbuh.

Harapannya, makin banyak warga atau komunitas yang terinspirasi bikin gerakan serupa di taman lain di Kota Probolinggo. Karena kalau satu kotak kecil bisa bikin satu anak jatuh cinta sama buku, itu udah lebih dari cukup. (duh/dny)