SUARAGONG.COM – Antrean panjang warga terlihat di sejumlah titik operasi pasar LPG 3 Kg di Kabupaten Probolinggo, Rabu (22/4/2026). Kondisi ini jadi bukti kalau gas subsidi ini lagi jadi “barang rebutan” di tengah kelangkaan dan harga yang sempat melonjak.
LPG 3 Kg Makin Langkah dan Mahal, Operasi Pasar Jadi “Penyelamat” Warga Probolinggo
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo langsung bergerak cepat dengan menggandeng Pertamina untuk menggelar operasi pasar di tiga kecamatan: Kraksaan, Kotaanyar, dan Paiton.
Belakangan ini, banyak warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan LPG 3 Kg dengan harga normal. Bahkan di beberapa tempat, harga gas melon melonjak dari Rp23 ribu hingga tembus Rp30 ribu per tabung.
Padahal, LPG 3 Kg jadi kebutuhan utama untuk aktivitas sehari-hari, terutama memasak. Nggak heran kalau kondisi ini bikin masyarakat resah.
Lewat operasi pasar ini, pemerintah berupaya menekan harga sekaligus memastikan stok tetap tersedia di tengah masyarakat.
Distribusi Dijaga Ketat, Biar Tepat Sasaran
Dalam pelaksanaannya, distribusi LPG dilakukan melalui tiga agen di tiap kecamatan, dengan masing-masing agen mendapat jatah 100 tabung. Artinya, ada sekitar 300 tabung LPG tersedia di setiap lokasi operasi pasar.
Semua prosesnya diawasi langsung oleh Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo. Tujuannya jelas, supaya nggak ada penimbunan atau permainan harga di lapangan.
Selain itu, pembelian juga dibatasi hanya satu tabung per kepala keluarga (KK) dengan menunjukkan KTP. Cara ini dilakukan agar distribusi lebih merata dan nggak disalahgunakan.
Warga Rela Antre Demi Harga Normal
Antusiasme warga terlihat banget. Banyak yang rela datang lebih awal dan antre cukup lama demi mendapatkan LPG dengan harga normal Rp18 ribu per tabung.
Pemandangan antrean panjang ini jadi gambaran nyata betapa tingginya kebutuhan masyarakat terhadap LPG subsidi.
Salah satu warga, Diana dari Desa Jabungsisir, mengaku sangat terbantu dengan adanya operasi pasar ini.
“Kami rela antre karena memang sulit dapat gas murah. Biasanya beli Rp23 ribu sampai Rp25 ribu, bahkan pernah Rp30 ribu,” ujarnya.
Paiton Jadi Salah Satu Titik Ramai
Di Kecamatan Paiton sendiri, operasi pasar melibatkan tiga agen resmi, yakni Putra Anugrah Mandiri Perkasa, PT Cordenvintridaya Energy, dan PT Gasanjaya Agung Abadi.
Kehadiran beberapa agen ini membantu distribusi lebih merata dan mengurangi penumpukan di satu titik.
Sekretaris Kecamatan Paiton, Junaidi, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk sinergi antara pemerintah dan Pertamina untuk membantu masyarakat.
“Kami juga melakukan pengawasan agar tidak ada markup harga maupun penimbunan,” tegasnya.
Harapan Warga: Jangan Cuma Sekali
Operasi pasar ini dinilai cukup efektif meredam keresahan masyarakat. Selain membantu dari sisi harga, warga juga merasa lebih tenang karena stok tersedia.
Namun, banyak warga berharap kegiatan seperti ini tidak hanya dilakukan sekali, tapi bisa rutin, terutama saat terjadi lonjakan harga atau kelangkaan.
Baca Juga : Warga Pajarakan Serbu Pasar Murah Bersubsidi di Probolinggo
Komitmen Jaga Stabilitas Energi
Lewat langkah ini, Pemkab Probolinggo bersama Pertamina menunjukkan komitmen untuk menjaga stabilitas distribusi energi, khususnya LPG 3 Kg.
Ke depan, pengawasan distribusi dan edukasi ke masyarakat juga jadi kunci penting agar sistem penyaluran gas subsidi bisa lebih adil, transparan, dan tepat sasaran.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan cuma soal harga murah, tapi juga kepastian bahwa kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. (Duh/Aye/sg)











