SUARAGONG.COM – Universitas Airlangga (UNAIR) resmi mengumumkan hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026. Dari total 69.620 peserta yang mendaftar, sebanyak 2.771 calon mahasiswa baru dinyatakan lolos dan berhak menyandang status sebagai calon Ksatria Airlangga.
UNAIR Terima 2.771 Mahasiswa Baru Jalur SNBT 2026, Kedokteran Jadi Prodi Favorite
Pengumuman tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Hall Lantai 1 Gedung Manajemen Kampus MERR-C UNAIR, Senin (25/5/2026). Hadir dalam kesempatan tersebut Rektor UNAIR, Prof. Dr. Muhammad Madyan, S.E., M.Si., M.Fin., beserta jajaran pimpinan universitas.
Dalam paparannya, Prof. Madyan menjelaskan bahwa dari total mahasiswa yang diterima, terdapat 470 mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Menurutnya, hal tersebut menjadi bentuk nyata komitmen UNAIR dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Penerimaan KIP Kuliah ini sebagai wujud komitmen UNAIR pada pendidikan inklusif,” ujarnya.
Mahasiswa Baru Berasal dari 32 Provinsi
Selain menunjukkan tingginya minat calon mahasiswa terhadap UNAIR, hasil SNBT tahun ini juga mencerminkan keberagaman asal daerah peserta yang diterima.
Prof. Madyan menyebut sebanyak 64,42 persen mahasiswa baru merupakan perempuan, sementara para peserta yang lolos berasal dari 32 provinsi di Indonesia, mulai dari Pulau Jawa hingga Papua Barat.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa reputasi UNAIR sebagai perguruan tinggi unggulan semakin dikenal secara nasional.
“Meskipun berlokasi di Jawa Timur, UNAIR menerima mahasiswa dari seluruh Pulau Jawa sampai Papua Barat. Hal ini membuktikan bahwa gaung Excellent with Morality sudah meluas hingga ke seluruh Indonesia,” ungkapnya.
Kedokteran Masih Jadi Program Studi Paling Ketat
Persaingan masuk program studi favorit di UNAIR masih didominasi oleh Fakultas Kedokteran. Berdasarkan data SNBT 2026, Program Studi Sarjana Kedokteran menjadi program paling ketat dengan tingkat keketatan sebesar 3,11 persen.
Posisi berikutnya ditempati oleh Program Studi Kedokteran Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) dengan tingkat keketatan 3,67 persen, serta Program Studi Psikologi sebesar 3,98 persen.
Menariknya, tingkat persaingan di jalur vokasi justru tercatat lebih kompetitif dibandingkan program sarjana.
Untuk jenjang vokasi, D3 Keperawatan menjadi program studi paling ketat dengan tingkat keketatan 1,15 persen, disusul D4 Akuntansi Bisnis Digital sebesar 1,20 persen.
“Untuk program sarjana, Kedokteran masih menjadi yang paling ketat. Sedangkan di program vokasi, persaingan bahkan lebih kompetitif,” terang Prof. Madyan.
Baca Juga : Unair Bagikan 10 Ribu Paket Ramadan Berkah ke 18 Daerah Jatim
Nilai Tertinggi Masih Dipegang Kedokteran
Tak hanya menjadi program studi paling diminati, Sarjana Kedokteran juga mencatat rerata nilai SNBT tertinggi di lingkungan UNAIR.
Berdasarkan data yang dipaparkan, rerata nilai peserta yang diterima di Program Studi Kedokteran mencapai 730,45 untuk kelompok saintek. Sementara pada rumpun sosial humaniora (soshum), Program Studi Akuntansi mencatat rerata nilai tertinggi sebesar 684,33.
Adapun pada jalur vokasi, Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi yang tertinggi dengan rerata nilai 659,76.
“S1 Kedokteran dari tahun ke tahun masih menjadi program studi dengan rerata nilai tertinggi di Universitas Airlangga,” imbuhnya.
UNAIR Pastikan Seleksi Berjalan Bersih dan Transparan
Di akhir konferensi pers, Prof. Madyan menegaskan seluruh proses seleksi mahasiswa baru di UNAIR berjalan secara objektif dan bebas dari praktik kecurangan.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) UNAIR, Dr. Achmad Solihin, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa pihak kampus telah menerapkan berbagai langkah pengamanan selama pelaksanaan SNBT.
Mulai dari pemeriksaan menggunakan metal detector, verifikasi identitas peserta, pengecekan dokumen, hingga pencocokan wajah dilakukan untuk memastikan integritas proses seleksi tetap terjaga.
“Tentunya kami sudah mempersiapkan semaksimal mungkin. Seperti pemeriksaan metal detector, konfirmasi atau verifikasi terkait dokumen serta wajah dan beberapa mekanisme lainnya,” jelas Solihin. (PHMP UNAIR/aye/sg)










