Strategi Literasi HAN 2026: Ghyta Eka Puspita Luncurkan Buku Cerita Bergambar Bunda PAUD Jember

Strategi Literasi HAN 2026: Ghyta Eka Puspita Luncurkan Buku Cerita Bergambar Bunda PAUD Jember
Strategi Literasi HAN 2026: Ghyta Eka Puspita Luncurkan Buku Cerita Bergambar Bunda PAUD Jember (Rio/sg))

SUARAGONG.COM – Krisis literasi yang membayangi generasi muda Indonesia direspons dengan langkah taktis dan edukatif oleh Pemerintah Kabupaten Jember. Menyadari bahwa pembentukan karakter gemar membaca harus dimulai dari lingkungan terkecil yakni keluarga, momentum Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Alun-Alun Jember pada Senin (10/8/2026) diwarnai dengan peluncuran resmi “Buku Cerita Bergambar Bunda PAUD”. Peluncuran produk literasi lokal ini ditandai dengan penandatanganan sebuah buku berukuran raksasa (Giant Book) oleh Bunda PAUD Jember, Ghyta Eka Puspita.

Bunda PAUD Jember Ghyta Eka Puspita luncurkan Buku Cerita Bergambar di HAN 2026

Buku Cerita Bergambar Bunda PAUD didesain khusus sebagai media stimulasi visual dan kognitif yang ramah anak. Melalui narasi yang sederhana, kaya akan pesan moral lokalitas, serta ilustrasi warna yang memikat, buku ini diproyeksikan sebagai instrumen pengikat hubungan emosional (bonding). Antara orang tua dan anak. Pemkab Jember akan mendistribusikan buku ini ke seluruh jaringan PAUD, TK, dan Posyandu. Hal ini guna mendorong gerakan membaca bersama di dalam rumah sejak usia dini.

Orang Tua Diminta Tak Limpahkan Pengasuhan ke Gawai

Bunda PAUD Kabupaten Jember, Ghyta Eka Puspita, dalam orasi pendidikan di depan ribuan wali murid. Menekankan pentingnya peran aktif orang tua sebagai pendidik utama di institusi keluarga. Ghyta mengkritisi kecenderungan pola asuh modern yang sering kali melimpahkan beban pengasuhan kepada gawai (gadget) digital. Menurutnya, tidak ada teknologi apa pun yang bisa menggantikan kehangatan suara dan kehadiran fisik orang tua saat membacakan dongeng sebelum tidur bagi anak-anak mereka.

“Kami mengajak para orang tua untuk meluangkan waktu secara konsisten setiap harinya. Membiasakan membaca bersama anaknya, satu hari minimal satu buku. Ini bukan soal membuat anak langsung pintar membaca, melainkan menumbuhkan rasa cinta mereka terhadap buku dan ilmu pengetahuan sejak sel-sel otak mereka berkembang di usia emas.” Pesan Ghyta dengan penuh penekanan.

Filosofi “Benih Cabai”: Jangan Paksakan Anak Jadi Melon

Lebih mendalam, Ghyta memaparkan analogi sosiologis mengenai filosofi pola pengasuhan (parenting). Ia mengingatkan para orang tua untuk memahami dan menerima bahwa setiap anak dilahirkan dengan keunikan, potensi, serta bakat yang berbeda-beda. Kesalahan terbesar orang tua dalam mendidik adalah memaksakan kehendak atau ambisi pribadi. Dan membanding-bandingkan pencapaian anak dengan anak orang lain, yang justru dapat mematikan karakter asli sang anak.

“Ibaratnya kita punya benih cabai. Jangan dipaksakan menjadi melon. Tugas kita sebagai orang tua adalah bagaimana cabai ini menjadi bibit yang unggul. Bagaimana kita sirami dan kita pupuki dengan kasih sayang serta pendidikan yang tepat, sehingga bisa menjadi cabai yang unggul.” Tutur Ghyta mengibaratkan pola asuh anak yang ideal.

Baca Juga : Pemkab Jember Audit 209 Dapur Program MBG

Target Kerek Indeks Literasi Daerah

Melalui peluncuran Buku Cerita Bergambar ini, Pemkab Jember berharap angka indeks literasi daerah dapat terkoreksi naik dalam beberapa tahun ke depan. Momentum HAN 2026 dijadikan sebagai tonggak deklarasi perang terhadap buta aksara fungsional sejak usia dini.

Dengan keterlibatan aktif jaringan guru PAUD dan kesadaran kolektif dari para orang tua untuk mempraktikkan gerakan satu hari satu buku, Jember optimistis dapat melahirkan generasi emas yang tidak hanya cerdas secara akademis, melainkan memiliki kematangan emosional dan karakter budi pekerti yang luhur. (Rio/Aye/sg)