Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa
Share
SUARAGONG.COM – Banyak orang kota bermimpi punya rumah di desa, bangun pagi disambut suara burung, lalu menyeruput kopi sambil melihat sawah. Mereka pikir itulah puncak dari slow living. Tapi nyatanya, bagi sebagian orang yang sudah menjalaninya, narasi “kembali ke alam” itu sering kali berakhir jadi horor sosial.
Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres
Berdasarkan laporan dari Mojok.co, tinggal di perumahan (terutama tipe klaster) justru memberikan ruang hidup yang lebih ideal untuk mencari ketenangan. Kenapa? Ini alasannya:
1. Privasi Adalah Kemewahan Tertinggi
Di perumahan, antarwarga cenderung memiliki budaya individualitas yang tinggi. Artinya, tetangga tidak akan merecoki urusan pribadi atau menanyakan kapan kamu punya anak lagi. Sebaliknya, di desa, privasi adalah hal langka. Kurang srawung (sosialisasi) sedikit, kamu langsung dicap sombong atau masuk radar bahan ghibah warga. Bagi mereka yang ingin hidup pelan tanpa tekanan sosial, perumahan adalah benteng pertahanan terbaik.
Baca Juga : Aisyah RA dan Revolusi Slow Living di Era AI
2. Bebas dari “Pajak Sosial” yang Mencekik
Konsep frugal living dan slow living sering kali hancur lebur di desa karena urusan amplop sumbangan. Di beberapa daerah, sumbangan pernikahan bisa menjadi beban mental karena ada standar nominal tertentu yang jika tidak dipenuhi akan menjadi buah bibir. Di perumahan, hubungan sosial lebih bersifat transaksional dan opsional, sehingga kamu bisa lebih fokus mengelola ketenangan batin (dan dompet) sendiri.
Baca Juga : Slow Bar Coffee dan Slow Living: Gaya Ngopi Baru Gen Z?
3. Fasilitas yang Mendukung Ritme Pelan
Gaya hidup slow living modern butuh dukungan infrastruktur. Perumahan klaster biasanya menawarkan sistem keamanan satu gerbang yang membuat lingkungan tenang dari lalu lintas umum. Belum lagi kemudahan akses ojek online atau kurir paket yang memudahkan hidup tanpa harus sering keluar rumah menghadapi kemacetan.
Baca Juga :Gaes !!! Gaya Hidup Frugal Living yang Trending di Kalangan Milenial
Risikonya: Rela Dicap Sombong
Tentu saja, kenyamanan ini ada harganya. Di perumahan, kamu harus rela dicap eksklusif atau kurang membumi oleh masyarakat luas. Tapi seperti kata Dimas, salah satu narasumber yang pindah dari desa ke perumahan demi kesehatan mental: “Lebih baik dicap sombong daripada stres karena mulut tetangga”.
Jadi, buat kamu yang masih terobsesi beli tanah di pelosok desa demi slow living, coba pikir lagi. Apakah kamu siap bangun jam 5 pagi hanya untuk kerja bakti, atau lebih suka bangun jam 8 pagi tanpa ada yang peduli?. (Aye/sg)

