Type to search

Kota Batu Pendidikan

Pendidikan Inklusif di Kota Batu Makin Ngebut

Share
Pendidikan Inklusif di Batu Makin Ngebut, ABK Dapat Akses Lebih Luas

SUARAGONG.COM – Komitmen Kota Batu dalam membangun pendidikan yang ramah untuk semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK), makin kelihatan nyata. Hal ini ditegaskan dalam acara Rapat Koordinasi (Rakor) dan Halal Bihalal MKKS Pendidikan Khusus (PK) Provinsi Jawa Timur di GOR Gajah Mada, Minggu (12/4/2026).

Lewat Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat, Pemkot Batu menegaskan kalau pendidikan inklusif bukan sekadar wacana, tapi sudah dijalankan lewat berbagai program konkret.

Pendidikan Inklusif di Batu Makin Ngebut, ABK Dapat Akses Lebih Luas

Salah satu langkah paling krusial adalah hadirnya Unit Layanan Disabilitas (ULD) sejak Desember 2024. Unit ini jadi pusat layanan untuk siswa inklusi, mulai dari proses asesmen sampai pendampingan saat masuk ke sekolah reguler.

“ULD ini fokus mendampingi anak-anak inklusi agar bisa mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya,” jelas Alfi.

Hasilnya mulai terlihat. Jumlah ABK yang bersekolah di sekolah reguler di Kota Batu terus meningkat, mulai dari jenjang TK, SD, hingga SMP. Ini jadi tanda kalau akses pendidikan makin terbuka lebar.

Nggak cuma itu, Pemkot Batu juga sudah menunjuk enam sekolah pelopor pendidikan inklusi—terdiri dari dua TK, dua SD, dan dua SMP. Sekolah-sekolah ini jadi contoh penerapan sistem pendidikan yang ramah disabilitas.

Dari sisi tenaga pengajar, pendampingan juga terus digenjot. Lewat ULD, guru-guru mendapatkan bimbingan teknis intensif supaya lebih siap menghadapi kebutuhan belajar ABK.

Langkah ini bahkan berbuah manis. Kota Batu berhasil meraih penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas komitmennya dalam pendidikan inklusif.

Baca Juga : Cak Nur–Mas Heli Tegaskan Komitmen Selamatkan Ikon Kota Batu

Sebagaimana Visi Batu SAE : Akomodatif dan Unggul

Program ini juga selaras dengan visi Batu SAE, khususnya poin “Akomodatif” dan “Unggul” yang menekankan kesempatan setara bagi semua anak untuk berkembang sesuai potensinya.

Di forum tersebut, Alfi juga ngajak semua pihak untuk terus kolaborasi. Fokusnya ada tiga: peningkatan kompetensi guru, pengembangan kurikulum adaptif, dan penyediaan fasilitas sekolah yang ramah disabilitas.

Sementara itu, dari sisi Pemprov Jatim, dukungan juga nggak kalah kuat. Kabid PK-PLK Dinas Pendidikan Jatim, Mudianto, menyebut dalam waktu dekat bakal ada penguatan layanan, termasuk rencana pembukaan ULD di wilayah Junrejo.

Selain itu, Pemprov juga lagi gencar meningkatkan kualitas guru SLB. Targetnya jelas: guru nggak cuma jago teori, tapi juga punya kemampuan vokasi atau keterampilan praktis.

“Guru harus multitalenta. Selain akademik, mereka juga harus bisa mengajarkan keterampilan yang berguna untuk masa depan siswa,” tegasnya.

Langkah ini penting, karena lulusan SLB dinilai butuh bekal lebih dari sekadar teori. Dengan keterampilan vokasi, mereka diharapkan bisa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Untuk mendukung itu, SMK juga akan dilibatkan dalam pelatihan guru SLB. Harapannya, ilmu yang didapat bisa langsung diterapkan ke siswa ABK.

Dengan kolaborasi antara Pemkot Batu dan Pemprov Jatim, pendidikan inklusif diharapkan makin kuat. Tujuannya satu: semua anak, tanpa terkecuali, punya kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan. (Mf/Aye/sg)

Tags:

You Might also Like