Sulap Sampah Jadi Biogas! Polinema Sukses Bikin TPS 3R Gadingkulon Mandiri Energi

Tim Pengabdian Masyarakat dari Politeknik Negeri Malang (Polinema) nyulap TPS 3R Gadingkulon jadi model percontohan desa mandiri energi
Tim Pengabdian Masyarakat dari Politeknik Negeri Malang (Polinema) nyulap TPS 3R Gadingkulon jadi model percontohan desa mandiri energi

SUARAGONG.COM – Masalah sampah di Malang Raya emang gak ada habisnya buat dikulik, tapi kampus satu ini punya cara yang out of the box banget buat ngasih solusi. Yup, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Politeknik Negeri Malang (Polinema) baru aja turun tangan buat nyulap TPS 3R Gadingkulon jadi model percontohan desa mandiri energi dan lingkungan, Nawak!

SULAP SAMPAH JADI BIOGAS! Tim Pengabdian Polinema Sukses Bikin TPS 3R Gadingkulon Mandiri Energi

Lewat program kece bertajuk “Inovasi Swadaya Energi Hijau di TPST 3R Gadingkulon,” mereka gak cuma sekadar sosialisasi formalitas aja. Tim multidisiplin yang dipimpin oleh Prof. Dr. Mochammad Junus, S.T., M.T. ini langsung sat-set ngebangun infrastruktur hijau di sana sejak Maret kemarin sampai Oktober 2026 nanti.

70 Persen Sampah Organik yang Anggur, Kini Jadi “Emas Hijau”

Bukan tanpa alasan Gadingkulon dipilih jadi target operasi. Pasalnya, hasil observasi tim Polinema nemuin fakta kalau sekitar 70 persen sampah harian di sana—atau setara 500 sampai 800 kilogram per hari—itu didominasi sama sampah organik yang selama ini cuma numpuk dan bikin gas metana makin pekat. Udah gitu, biaya operasionalnya juga boncos banget.

Nah, solusinya mak jleb! Polinema langsung ngebangun digester biogas berkapasitas jumbo, yaitu 10 meter kubik. Alat ini bakal memproses sampah-sampah organik tadi menjadi gas metana alternatif.

Nantinya, energi dari biogas ini langsung dipakai buat operasional internal TPS, kayak buat lampu penerangan, ngejalanin mesin pencacah sampah, sampai pompa air. Double kill-nya lagi, sisa prosesnya bakal menghasilkan pupuk organik yang melimpah!

“Kami ingin TPST tidak hanya menjadi tempat pengelolaan sampah, tetapi berkembang menjadi pusat energi hijau yang mampu memenuhi sebagian kebutuhan energinya sendiri sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Prof. Junus kepada Suara Gong.

Baca Juga : Rupiah Dalam Bayang-Bayang Resesi: Belajar dari Logika Pilot Habibie

Hemat Anggaran Sampah Sampai 70 Persen, Target Jadi Model Nasional

Gak cuma modal alat canggih, arek-arek Polinema beserta dosen juga ngajakin 50 anggota kelompok pengelola TPS buat ikutan up-skilling. Mereka diajarin konsep Reduce, Reuse, Recycle (3R), cara produksi pupuk, sampai bikin Refuse Derived Fuel (RDF) alias bahan bakar dari hasil daur ulang sampah.

Indra Lukmana Putra, salah satu anggota tim, nambahin kalau manajemen yang terintegrasi ini sengaja dibentuk biar aspek ekonominya dapet banget.

Efek domino dari inovasi hijau ala Polinema ini emang gak main-main, Nawak:

  • Hemat Pol: Biaya operasional TPS diproyeksikan bisa ditekan dari 50 sampai 70 persen.
  • Cuan Tambahan: Dapet cuan segar dari penjualan 20–30 ton pupuk organik per tahunnya.
  • Mandiri Energi: Dalam jangka panjang, TPS 3R Gadingkulon ditarget bisa mandiri energi hingga 80 persen!

Aksi nyata Polinema ini juga sejalan banget sama misi global Sustainable Development Goals (SDGs) buat jaga bumi. Harapannya, TPS Gadingkulon ini bisa jadi role model nasional yang bisa ditiru sama daerah-daerah lain di Indonesia. Mbois lop kan inovasinya, Nawak Arema? Semoga makin banyak kampus yang bikin aksi nyata yang langsung terasa manfaatnya kayak gini ya! (Ind/Aye/Sg)

Penulis : Indra Lukmana Putra, SST., MM.,