SUARAGONG.COM – Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Malang resmi memulai rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi ratusan siswa baru. Selain menjalani pemeriksaan kesehatan gratis, para peserta didik akan dipetakan potensi bakatnya menggunakan metode Talent DNA sebagai landasan pembinaan pendidikan.
Petakan Bakat Lewat Talent DNA! SRT 1 Kabupaten Malang Wajibkan Siswa Tinggal di Asrama
Kepala SRT 1 Kabupaten Malang, Warsito, menjelaskan bahwa setelah fase MPLS berakhir, para siswa akan mengikuti masa matrikulasi sebelum masuk ke dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) secara penuh.
“Di Sekolah Rakyat ini kita akan memetakan dengan Talent DNA. Jadi bakat-bakat siswa dipetakan, nanti sekolah akan memberikan ekstrakurikuler sesuai kebutuhan berdasarkan hasil tes tersebut,” ujar Warsito.
Sebelum KBM dimulai, seluruh siswa anyar juga diwajibkan mengikuti Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) yang difasilitasi oleh Puskesmas Bantur.
Daya Tampung 323 Siswa dan Kesiapan Fasilitas
Warsito menuturkan, sarana dan prasarana di kawasan SRT 1 Kabupaten Malang di Srigonco saat ini telah siap hampir 100 persen. Gedung masjid, aula, gedung serbaguna, hingga asrama putra dan putri telah difungsikan sepenuhnya.
Saat ini, SRT 1 Kabupaten Malang menampung total 323 siswa gabungan dari jenjang Sekolah Rakyat Terintegrasi dan sekolah rintisan. Rinciannya terdiri atas 59 siswa SD, 118 siswa SMP, 94 siswa SMA, serta 77 siswa sekolah rintisan yang berasal dari berbagai kecamatan di Kabupaten Malang hingga daerah luar seperti Lumajang dan Kediri.
Baca Juga : Sekolah Rakyat Tahap 1C Kabupaten Malang Resmi Dibuka
Wajib Asrama 40 Hari Pertama dan Pulang Sebulan Sekali
Guna membentuk kedisiplinan dan karakter hidup mandiri, seluruh siswa diwajibkan untuk menetap di asrama (boarding) selama 40 hari pertama.
“Selama 40 hari anak-anak menjalani pembiasaan. Mulai merapikan tempat tidur, mencuci pakaian, membersihkan kamar, bangun pukul 04.00, salat berjamaah, olahraga, belajar, mengaji, hingga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler,” terangnya.
Setelah masa pembiasaan 40 hari usai, jadwal kepulangan siswa diatur secara berkala yaitu satu bulan sekali. Keputusan ini diambil guna meringankan beban biaya transportasi bagi para orang tua murid yang mayoritas berasal dari kelompok ekonomi rentan (desil 1 dan desil 2).
“Aturannya berlaku untuk semua siswa tanpa terkecuali. Sekolah Rakyat ini memang dirancang untuk membangun kedisiplinan dan karakter siswa,” tegas Warsito. (Yog/Aye/sg)










