Jatim, Suaragong.com – Udan ne Kenek Macet Dulur! Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas I Jawa Timur (Jatim) merilis rilis resmi terkait Prediksi Musim Hujan Tahun 2026/2027 di wilayah Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan pemutakhiran kondisi dinamika atmosfer-lautan, mayoritas wilayah Jawa Timur diproyeksikan mengalami keterlambatan atau masuknya awal musim hujan yang cenderung MUNDUR dibanding rata-rata normalnya.
BMKG Memprediksi Musim Hujan Wilayah Jatim 2026/2027 datang lebih lambat akibat El Niño
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno, menjelaskan bahwa fenomena iklim global El Nino dengan intensitas sangat kuat diprediksi terus bertahan hingga awal tahun 2027. Di saat bersamaan, indikator Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase Positif hingga akhir tahun 2026. Yang mana berimbas pada minimnya pembentukan awan hujan.
“Provinsi Jawa Timur yang terbagi dalam 74 Zona Musim (ZOM). Sebanyak 68 ZOM atau sekitar 90,6 persen wilayah baru akan memasuki musim hujan pada bulan Desember 2026. Sementara 5 ZOM (8,5%) mulai November 2026, dan 1 ZOM (0,9%) baru memasukinya pada Januari 2027.” Jelas Anung dalam rilis resminya, September 2026.
Berdasarkan pemetaan BMKG, ZOM 328 yang meliputi wilayah Situbondo bagian utara menjadi daerah yang diprediksi paling akhir memasuki musim hujan, yakni pada dasarian II Januari 2027.
Awal Musim Hujan Mundur dan Durasi Lebih Pendek
Secara umum, perbandingan awal musim hujan 2026/2027 terhadap periode normalnya (1991–2020) menunjukkan dominasi sifat MUNDUR hingga mencakup 70 ZOM (96,6% luas daratan). Bahkan, sebanyak 9 ZOM (12%) mengalami keterlambatan ekstrem lebih dari 5 dasarian atau sekitar dua bulan.
Selain datang lebih lambat, durasi atau panjang musim hujan tahun ini diprediksi LEBIH PENDEK pada 67 ZOM (93% wilayah). Meskipun demikian, sifat hujan secara keseluruhan diprakirakan dominan NORMAL di 68 ZOM (90,6%) dan Atas Normal di 6 ZOM (9,4%). Dengan akumulasi Puncak Musim Hujan diproyeksikan bakal terkonsentrasi pada Februari 2027 (69,2% luas daratan).
Baca Juga : Polres Malang Siagakan Personel Hadapi Potensi Bencana Alam
Rekomendasi Strategis Tiga Sektor Vital
Merespons kondisi iklim ekstrem ini, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan instansi terkait untuk menjadikan dokumen rilis ini sebagai peringatan dini (early warning). Guna melakukan langkah mitigasi serta penyesuaian kebijakan adaptif:
Sektor Kebencanaan: Mengantisipasi potensi ancaman krisis air baku, kekeringan hidrologi, risiko gagal panen (puso), hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemerintah daerah juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman cuaca ekstrem saat peralihan musim. Yang mana berpotensi memicu banjir bandang dan tanah longsor.
Sektor Sumber Daya Air: Mengoptimalkan pemanfaatan air tanah bagi lahan pertanian yang rentan defisit air. Pihak terkait diminta memperkuat infrastruktur bangunan air serta memasang sistem pemanenan air hujan (rainwater harvesting). Khususnya untuk periode simpan Januari–Maret 2027.
Sektor Pangan & Hortikultura: Para petani diimbau melakukan penyesuaian kalender tanam secara presisi dan beralih ke varietas tanaman yang kekeringan/adaptif. (Aye/sg)










