SUARAGONG.COM – Di tengah hiruk-pikuk Jalan Aris Munandar No. 52, sebuah gedung putih dengan arsitektur kotak yang kaku berdiri seolah-olah menyimpan ribuan rahasia. Bagi generasi milenial Malang, tempat ini mungkin dikenal sebagai Mason 52, sebuah kafe estetik. Namun bagi para sesepuh kota, bangunan ini selamanya akan diingat sebagai Logi Freemason Malang atau Loge 89 atau yang lebih dikenal dengan julukan menyeramkan: “Rumah Setan”.
Arsitektur Freemason Malang atau Loge 89
Gedung ini bukan bangunan kolonial biasa. Diresmikan pada 1 April 1914, bangunan ini merupakan mahakarya arsitek Ir. Mulder. Berbeda dengan gaya Indische yang lazim di Malang, Mulder menerapkan gaya Nieuwe Bouwen (Modernisme awal).
Fisik bangunannya berbentuk kubus minimalis dengan garis-garis tegas yang kaku. Dindingnya terbuat dari bata merah tebal khas Belanda yang mampu meredam suara dan menjaga suhu ruangan tetap dingin—bahkan cenderung mencekam bagi yang belum terbiasa. Keanehan fisik yang paling menonjol di masa lalu adalah minimnya jendela pada bagian ruang utama (Temple), menciptakan suasana tertutup yang memicu kecurigaan warga sekitar selama puluhan tahun.

Freemanson Malang atau Loge 89 yang dikenal Sesepuh Warga Malang Sebagai Rumah Setan (Dibantu Generate AI)
Mengapa Disebut “Rumah Setan”?
Julukan Duyvelshuis atau Rumah Setan lahir dari perpaduan antara eksklusivitas organisasi Freemasonry dan ketidaktahuan masyarakat lokal. Ada tiga alasan utama yang membangun folklore horor ini:
- Ritual Tengah Malam: Freemason dikenal sebagai organisasi persaudaraan yang sangat tertutup. Masyarakat kolonial sering melihat pria-pria elit (baik Belanda maupun ningrat pribumi) masuk ke gedung ini dengan jubah khusus pada malam hari. Karena pintu selalu tertutup rapat, berkembanglah mitos bahwa mereka tengah melakukan pemanggilan arwah atau menyembah setan.
- Simbolisme Jangka dan Siku: Dahulu, pada fasad depan gedung terpampang lambang jangka dan penggaris siku yang mencolok. Bagi warga pribumi kala itu, simbol geometris asing ini dianggap sebagai rajah atau kode ilmu hitam.
- Kaitan dengan Dunia Kematian: Mitos ini diperkuat dengan adanya simbol serupa di nisan-nisan mewah Pemakaman Londo (TPU Sukun). Hubungan antara gedung tanpa jendela dan makam-makam besar ini menciptakan narasi horor yang melegenda di Malang.
Baca Juga : Sejarah THR: Lahir dari Kebijakan 1950-an, Disempurnakan di Era Reformasi
Dari Markas Rahasia Menjadi Cagar Budaya
Masa kejayaan kaum Mason di Malang berakhir pada tahun 1962, setelah Presiden Soekarno melarang organisasi ini melalui Keppres No. 264. Gedung ini sempat disita negara dan berpindah-pindah fungsi, mulai dari kantor dinas hingga lembaga pendidikan. Selama masa-masa transisi itulah, kesan angker semakin menguat karena bangunan ini sering kali tampak gelap dan sunyi di malam hari.
Namun, wajah misterius itu kini telah bersalin rupa. Sejak ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kota Malang, upaya konservasi mulai dilakukan. Interior yang dulunya “terlarang” kini terbuka bagi siapa saja. Lantai bermotif catur dan langit-langit tinggi yang dulu menjadi saksi ritual rahasia, kini berganti menjadi ruang kreatif bagi anak muda untuk menyesap kopi.
Meskipun kini menjadi tempat nongkrong yang hangat, jejak sejarahnya sebagai “Rumah Setan” tetap menjadi bumbu menarik bagi sejarah urban Malang. Loji Freemason Malang bukan lagi tempat yang ditakuti, melainkan bukti nyata bagaimana sejarah, arsitektur, dan mitos bisa hidup berdampingan di tengah modernitas kota. (Aye/sg)






