Wisata  

Waktu Pas ke Bromo! Fenomena Embun Upas Eksis Sampai Agustus

Waktu Pas ke Bromo! Fenomena Embun Upas Eksis Sampai Agustus
Waktu Pas ke Bromo! Fenomena Embun Upas Eksis Sampai Agustus

SUARAGONG.COM – Ada alasan kuat kenapa para pelancong tak pernah bosan untuk kembali memacu kendaraannya menuju Gunung Bromo. Memasuki musim kemarau 2026, ikon wisata internasional yang berdiri megah di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ini kembali menyuguhkan fenomena alam yang paling diburu wisatawan: Embun Upas.

Embun Bromo, yang sering disebut masyarakat lokal sebagai Embun Upas

Berdasarkan prakiraan dari BMKG, fenomena hamparan kristal es menyerupai salju tipis ini diprediksi bakal sering menyelimuti Bromo hingga Agustus 2026. Suhu udara ekstrem yang anjlok hingga di bawah 5 derajat Celsius. Hal ini mengubah lanskap Bromo menjadi negeri musim dingin di tengah hangatnya iklim tropis Indonesia.

Catat! Deretan Nama Baru Spot Estetik di Bromo

Gak cuma soal hawa dingin yang menusuk tulang, per Juni 2026 ini para pelancong juga wajib tahu kalau beberapa nama spot legendaris di Bromo telah bersolek menggunakan penamaan lokal yang sarat akan sejarah budaya suku Tengger.

  • Bukit Kedaluh: Merupakan nama baru dari Bukit Kingkong. Lokasi ini menjadi alternatif mbois buat berburu sunrise tanpa harus berdesakan layaknya di Penanjakan 1.
  • Lemah Pasar: Menggantikan nama Bukit Cinta. Spot yang berada di ketinggian 2.600 mdpl ini menyimpan legenda sakral Joko Seger dan Roro Anteng.
  • Pusung Gedhe: Nama anyar untuk kawasan kaldera yang bertahun-tahun kita kenal sebagai Laut Pasir atau Pasir Berbisik. Di tengah Pusung Gedhe ini pula berdiri kokoh Pura Luhur Poten, pusat perayaan Yadnya Kasada.
  • Lembah Watangan: Nama baru untuk kawasan hijau Bukit Teletubbies. Tempat favorit untuk santai di padang savana atau sekadar foto prewedding.

Akses Sat-Set dan Mudah dari Malang Raya

Bagi Nawak Arema yang berangkat dari arah Kabupaten maupun Kota Malang, akses menuju pintu langit Bromo kini terhitung sangat ramah di kantong dan waktu. Perjalanan bisa dimulai dengan mudah dari Stasiun Malang, Terminal Arjosari, hingga Bandara Abdulrachman Saleh.

Melalui jalur favorit via Tumpang, jarak menuju pintu masuk TNBTS berkisar antara 45–50 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 1,5 hingga 2 jam saja. Jalur Tumpang banyak dipilih karena menyuguhkan lanskap pedesaan lereng Tengger yang asri sebelum nantinya wisatawan wajib mengoper moda transportasi menggunakan jip 4×4 untuk melibas medan pasir pegunungan.

Baca Juga :Bupati Malang Melihat Langsung Potensi Wisata Malang Timur

Info Tiket dan Reservasi Non-Tunai

Biar liburanmu gak berujung zonk, pastikan kamu sudah melakukan booking tiket secara daring (online) karena pengelola tidak melayani pembelian tiket di tempat.

Per Juni 2026, tarif tiket untuk Wisatawan Nusantara dipatok sebesar Rp54.000 (hari kerja) dan Rp79.000 (akhir pekan/hari libur). Sedangkan untuk Wisatawan Mancanegara dikenakan tarif Rp255.000 dengan sistem pembayaran non-tunai via QRIS atau virtual account.

Bagi Sobat Wisata yang ingin mengintip rekomendasi destinasi mbois lainnya di sekitar bumi Arema, langsung saja berselancar ke situs promosi wisata resmi Kabupaten Malang di https://matic.malangkab.go.id/. (Aye/sg)