SUARAGONG.COM – Jangan dikira judi online (judol) cuma jadi penyakitnya orang dewasa, Ngab. Fakta terbaru yang dibuka oleh Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, bener-bener bikin syok. Hampir 200 ribu anak di Indonesia terdeteksi sudah terpapar judol, dan yang paling bikin merinding, sekitar 80 ribu di antaranya adalah bocil berusia di bawah 10 tahun!
Pernyataan tegas ini disampaikan Menkomdigi dalam acara Indonesia GOID Menyapa Gass Pol Tolak Judol di Medan. Berikut poin penting yang wajib kita sadari bareng-bareng:
Anak Muda Jangan Termakan Rayuan Manis! Judol itu Murni SCAM!
Meutya Hafid menegaskan kalau judol itu bukan soal “untung-untungan”, melainkan sistem penipuan (scam). “Sistemnya sudah dipastikan bikin pemain hampir selalu rugi dan kalah dalam jangka panjang,” jelasnya. Jadi, jangan percaya sama bualan “pasti jp (jackpot)” yang berseliweran di medsos!
Gak Cukup Cuma di-Takedown
Sampai saat ini, Kementerian Komdigi emang agresif banget nge-blokir situs dan konten judi daring. Bahkan, mereka udah nodong platform media sosial gede kayak Instagram, Facebook, TikTok, dan YouTube buat ikutan aktif nurunin iklan judol yang makin agresif nyasar anak muda. Tapi menurut Menkomdigi, blokir aja gak cukup kalau literasi digital kita masih rendah.
Baca Juga : Komdigi Luncurkan IGRS, Batasi Akses Game untuk Anak
Rumah Tangga Hancur, Ibu & Anak Jadi Korban
Dampak judol ini efek dominonya ngeri pol, Lur. Banyak cerita pilu di masyarakat di mana keluarga kehilangan kestabilan ekonomi. Gak sedikit juga yang berujung pada Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) gara-gara ada anggota keluarga yang kecanduan judol.
Menkomdigi mengajak para tokoh agama, komunitas, dan terkhusus para ibu di rumah untuk jadi garda terdepan. Anak-anak zaman sekarang udah megang HP sejak dini, makanya pengawasan dari orang tua itu super krusial biar mereka gak gak sengaja nge-klik iklan judol yang menyamar jadi game online. (Aye/sg)










