SUARAGONG.COM – Tradisi kirab tebu manten kembali mewarnai pembukaan musim giling di SGN Pabrik Gula (PG) Wringin Anom, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, Senin (25/5/2026). Prosesi budaya yang menjadi penanda dimulainya musim giling tersebut berlangsung meriah. Serta disambut antusias oleh karyawan, petani tebu, dan masyarakat sekitar.
Tradisi Tebu Manten Warnai Pembukaan Musim Giling PG Wringin Anom Situbondo
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan acara selamatan dan doa bersama di Gedung Balai Pertemuan PG Wringin Anom. Hal ini sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus harapan agar musim giling tahun 2026 berjalan lancar. Tahun ini, kegiatan mengusung tema “Sinergi Bersama Mitra Menuju Sukses Giling Tahun 2026, Perusahaan Laba Petani Sejahtera.”

General Manager (GM) SGN PG Wringin Anom, Aris Afandi, mengatakan berbagai persiapan telah dilakukan secara maksimal untuk menghadapi musim giling tahun ini. Baik dari sisi pabrik maupun sektor tanaman.
Menurutnya, jajaran pabrik telah menyelesaikan berbagai pekerjaan perawatan dan pemeliharaan mesin (maintenance). Sementara di sektor tanaman dilakukan perawatan intensif hingga pemupukan guna menjaga kualitas bahan baku tebu yang akan digiling.
“Persiapan sudah kami lakukan secara maksimal, baik di bidang pabrik maupun tanaman. Musim giling direncanakan dimulai pada 13 Juli 2026,” ujar Aris usai kegiatan.
Optimistis Capai Target Produksi Gula
Pada musim giling tahun ini, PG Wringin Anom menargetkan mampu menggiling tebu sebanyak 128.325 ton sesuai Rencana Kerja Operasional (RKO). Dari jumlah tersebut, perusahaan membidik capaian rendemen sebesar 6,54 persen dengan target produksi gula mencapai 8.421 ton.
Aris mengaku optimistis target tersebut dapat tercapai berkat kesiapan pabrik, dukungan petani mitra. Serta kondisi tanaman yang terus dipantau selama masa pertumbuhan.
“Kami optimistis target giling dan produksi gula tahun ini bisa tercapai sesuai yang telah direncanakan,” katanya.
Musim Giling Serap Ribuan Tenaga Kerja
Selain berdampak pada sektor industri gula, musim giling juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar.
Aris menjelaskan, selama musim giling PG Wringin Anom akan mempekerjakan sekitar 1.400 tenaga kerja. Meningkat signifikan dibandingkan masa di luar musim giling yang hanya membutuhkan sekitar 400 pekerja.
“Kita menambah tenaga kerja selama musim giling, yaitu sekitar 1.400 orang yang diperkerjakan. Sedangkan di luar musim giling sekitar 400 tenaga kerja. Jadi musim giling ini bisa menyerap banyak tenaga kerja dan membantu perekonomian masyarakat,” jelasnya.
Baca Juga : MKKS SMP Negeri Situbondo Gelar MKKS Cup 2026
Tradisi dan Doa Jadi Awal Musim Giling
Menurut Aris, kirab tebu manten yang digelar setiap tahun bukan sekadar seremonial, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi yang telah melekat dalam budaya industri gula di Situbondo.
Prosesi tersebut menjadi simbol dimulainya musim panen dan penggilingan tebu, sekaligus bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Setelah kirab berlangsung, seluruh jajaran manajemen, karyawan, petani mitra, dan tamu undangan mengikuti acara selamatan serta doa bersama sebagai bentuk ikhtiar spiritual agar seluruh proses penggilingan berjalan aman, lancar, dan membawa keberkahan.
“Melalui doa bersama ini kami bermunajat kepada Allah SWT agar pelaksanaan giling tebu tahun 2026 di PG Wringin Anom dapat berjalan aman, lancar, sukses, dan barokah bagi perusahaan maupun para petani mitra,” pungkasnya. (Fin/aye/sg)










