SUARAGONG.COM – Pemilihan lokasi peluncuran program strategis oleh Pemerintah Kabupaten Jember menyimpan pesan historis dan sosio-kultural yang mendalam. Bupati Jember Muhammad Fawait (Gus Fawait) memilih kompleks Pondok Pesantren Nurul Islam (NURIS), Antirogo, Kecamatan Sumbersari. Sebagai lokasi meresmikan program Jember Cinta Kesehatan (JCK) Tahap Dua bertepatan dengan HUT ke-81 RI, Senin (17/8/2026).
Sinergi Kiai & Pemerintah! Bupati Gus Fawait Luncurkan JCK Tahap Dua dari Ponpes NURIS Jember!
Dalam kacamata sosiologi pemerintahan di kawasan Tapal Kuda, pesantren diposisikan sebagai episentrum peradaban sosial yang dekat dengan akar rumput. Peluncuran program kesehatan gratis berskala nasional dari lingkungan pesantren ini ditujukan untuk menghidupkan kembali sinergi historis antara umaro (pemerintah) dan ulama (kiai/santri). Serta bisa menyelesaikan persoalan kemanusiaan seperti masalah kesehatan.
Bupati Gus Fawait menegaskan pentingnya prinsip “Jasmerah” (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Untuk mengingat peran besar kiai dan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan.
“Kami sengaja meluncurkan kegiatan Jember Cinta Kesehatan Tahap Dua dari Pondok Pesantren Nuris. Kita tidak boleh melupakan sejarah bahwa kiai dan santri memiliki saham perjuangan besar bagi republik ini. Hari ini sinergi historis itu kita wujudkan kembali dalam aksi nyata pelayanan kesehatan cuma-cuma. Di mana pesantren menjadi jangkar moral dan pemerintah hadir membawa solusi medis,” ujar Gus Fawait.
Baca Juga : Hitung Mundur Keberangkatan Haji Jember, Gus Fawait Bagikan Tips
Santri dan Jaringan Alumni Digerakkan Jadi Relawan Kesehatan
Implementasi sinergi ulama dan umaro dalam program JCK Tahap Dua diwujudkan melalui pelibatan aktif santri senior, pengurus pesantren, hingga alumni NURIS dan pesantren mitra di Jember. Mereka digerakkan sebagai sukarelawan untuk mendata warga miskin, lansia, dan anak yatim yang membutuhkan penanganan operasi katarak hingga alat bantu medis.
Pendekatan kultural ini dinilai efektif menembus hambatan psikologis warga perdesaan yang kerap enggan berurusan dengan prosedur birokrasi formal. Melalui sosialisasi di majelis taklim dan lingkungan pesantren, masyarakat diharapkan memiliki kepercayaan tinggi (high-trust) untuk memanfaatkan fasilitas berobat gratis.
Kolaborasi nilai spiritualitas pesantren dan profesionalisme medis Pemkab Jember ini bertransformasi menjadi gerakan sosial inklusif yang membawa manfaat kesehatan nyata bagi masyarakat. (Rio/aye)










