SUARAGONG.COM – Sejumlah persoalan krusial dalam dunia pendidikan di Kota Batu menjadi sorotan dalam kegiatan Penguatan Program Pendidikan yang digelar Dinas Pendidikan Kota Batu di Aston Inn Batu, Rabu (13/5/2026) siang. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Mariman Darto serta para pemangku kepentingan pendidikan di Kota Batu.
Pendidikan Inklusif Hingga Beban Administrasi Guru Jadi Sorotan di Kota Batu
Dalam kesempatan itu, perwakilan Dewan Pendidikan Kota Batu, Barokah menyampaikan tiga persoalan utama yang saat ini menjadi perhatian para tenaga pendidik dan pemangku kebijakan pendidikan di Kota Batu.
Poin pertama yang disampaikan berkaitan dengan penguatan fasilitas sekolah inklusif bagi anak berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas.
Barokah menjelaskan, meskipun Kota Batu telah mendeklarasikan seluruh sekolah jenjang TK hingga SMP sebagai sekolah inklusif, namun pelaksanaan di lapangan dinilai masih membutuhkan banyak dukungan, baik secara teknis maupun infrastruktur.
“Saat ini semua sekolah di jenjang TK sampai SMP disebut sebagai sekolah inklusif. Namun, kami melihat perlunya fasilitasi yang sifatnya sangat teknis maupun infrastruktur,” ujar Barokah.
Ia juga mengapresiasi langkah Dinas Pendidikan Kota Batu yang telah menyediakan layanan konsultasi psikologi bagi anak berkebutuhan khusus di kawasan Perumahan Maduara.
Guru Dinilai Terbebani Administrasi Digital
Selain persoalan sekolah inklusif, Dewan Pendidikan Kota Batu juga menyoroti tingginya beban administrasi digital yang harus dijalankan para guru.
Menurut Barokah, banyak guru mengaku waktunya habis untuk mengurus administrasi berbasis digital. Sehingga mengurangi fokus dalam menciptakan metode pembelajaran yang mendalam (deep learning) dan menyenangkan (joyful learning).
“Kawan-kawan guru masih sangat disibukkan dengan hal-hal administratif yang serba digital. Kami berharap kementerian terkait dapat memberikan arahan agar pembelajaran yang menyenangkan tidak hanya menjadi jargo. Tetapi benar-benar dipraktikkan di kelas,” imbuhnya.
Baca Juga : Wali Kota Batu Sambut Sekolah Rakyat Kota Batu
Bosda Dinilai Kurang Fleksibel dan Krisis Guru
Persoalan berikutnya yang menjadi perhatian adalah keterbatasan penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda) di sekolah negeri. Di mana dinilai kurang fleksibel dibanding sekolah swasta.
Selain itu, Barokah juga menyoroti minimnya rekrutmen tenaga pendidik baru di Kota Batu yang menyebabkan kondisi zero growth dalam pemenuhan kebutuhan guru.
“Bagaimana kita bisa mengembangkan pembelajaran yang berdampak pada siswa jika gurunya kurang? Pemerintah Kota Batu saat ini belum memiliki daya yang cukup untuk mengangkat guru baru,” tegasnya.
Di akhir sambutannya, Dewan Pendidikan Kota Batu berharap adanya sinergi antara Pemerintah Kota Batu, Dinas Pendidikan Kota Batu, dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk segera mencari solusi atas berbagai persoalan pendidikan tersebut.
Menurutnya, langkah kolaboratif sangat dibutuhkan agar kualitas pendidikan di Kota Batu terus meningkat. Serta mampu menjawab tantangan dunia pendidikan ke depan. (Mf/Aye/sg)










