SUARAGONG.COM – Kalau dengar nama Sumberpucung, yang terlintas di pikiran kita pasti sebuah wilayah kecamatan yang ramai di jalur selatan Kabupaten Malang. Tapi tahu gak sih, Nawak? Di balik ramainya kepungan jalanan dan pertokoan hari ini, Sumberpucung menyimpan sebuah kisah manis tentang keselarasan antara manusia, pohon, dan mata air abadi.
Mengenal Cerita di Balik Nama Desa Sumberpucung
Alkisah pada zaman dahulu, saat Bumi Arema masih didominasi hutan lebat, air adalah segalanya. Di bagian barat tanah Malang, ada satu titik sumber air yang sangat istimewa. Airnya luar biasa jernih, sejuk, dan ajaibnya gak pernah kering sama sekali meski kemarau panjang lagi ekstrem-ekstremnya melanda.
Berawal dari Kebiasaan Local Wisdom Orang Jawa
Yang bikin tempat itu gampang diingat sama pengembara zaman dulu adalah kehadiran sebatang pohon pucung (kluwek) raksasa yang tumbuh tepat di atas sumber air tersebut. Akarnya yang kokoh mencengkeram tanah seolah bertugas menjaga kesucian mata air di bawahnya, sementara daunnya yang rimbun jadi tempat berteduh favorit warga yang mau menimba air.
Karena orang Jawa punya kebiasaan unik nan simpel, yaitu gemar menamai suatu wilayah berdasarkan ciri fisik yang paling mencolok (local landmarks), maka setiap kali ada yang mau mengambil air, mereka selalu bertukar ucapan, “Ambil air di bawah pohon pucung itu.” Lama-kelamaan, melekatlah nama “Sumber Pucung”.
Tanahnya yang subur dan airnya yang melimpah otomatis jadi magnet. Banyak keluarga mulai bikin rumah, mencuci, bercakap-cakap, hingga bertani di sana. Pelan tapi pasti, wilayah yang tadinya cuma tempat singgah buat minum ini berubah menjadi sebuah pemukiman padat.
Baca Juga : Festival Sandjiwa Wadah Pelestarian Permainan Tradisional di Malang
Resmi Jadi Desa Sejak Tahun 1897 hingga Pemekaran Karangkates
Waktu terus bergulir hingga masuk ke era Pemerintah Kolonial Belanda. Pada tahun 1897, wilayah administratif ini resmi disahkan sebagai Desa Sumberpucung di bawah naungan Kabupaten Malang.
Awalnya, desa ini sangat luas karena mencakup daerah Krajan, Rekesan, Pakel, Suko, Sumberayu, Bandung, Lumbu Peteng, hingga Karangkates. Sejarah juga mencatat deretan nama sesepuh dan pemimpin yang babat alas serta menjaga desa ini, mulai dari Mbah Irosari, Pak Daridjah, hingga era modern.
Saking luasnya wilayah dan membludaknya jumlah penduduk, pada tahun 1992 akhirnya dilakukan pemekaran wilayah. Dusun Karangkates dan Bandung resmi pecah kongsi dan berdiri sendiri menjadi Desa Karangkates. Agar pelayanan masyarakat bisa sat-set dan lebih cepat.
Meski batas wilayahnya sudah banyak berubah dari seabad lalu, nama Sumberpucung tetap abadi. Sebuah pengingat mbois kalau desamu ini lahir dari sebuah pohon yang menjaga kehidupan dan mata air yang menghidupi manusia. Gimana, makin bangga kan jadi Arek Sumberpucung, Nawak? (Aye/sg)










