Rupiah Dipantau Kembali Lemah Melemas: BI Keluarkan Jurus!

Rupiah Dipantau Kembali Lemah Melemas: BI Keluarkan Jurus!
Rupiah Dipantau Kembali Lemah Melemas: BI Keluarkan Jurus!

SUARAGONG.COMGuys, ada kabar yang lumayan bikin deg-degan dari lantai perdagangan pasar uang nih. Perdagangan terakhir pekan ini dibuka dengan drama yang kurang mengenakkan buat mata uang kebanggaan kita. Pada Jumat (19/6/2026) pagi, nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah gempuran minat pasar global yang lagi cinta mati sama mata uang greenback.

ALAMAK, RUPIAH TERPANTAU MELEMAH! BI Langsung Satset Mengeluarkan Jurus Proteksi

Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda harus rela dibuka melemah ke posisi Rp17.830/US$ alias mengalami depresiasi sebesar 0,73%. Padahal, pada hari sebelumnya, Kamis (18/6/2026), rupiah kita sempat bikin bangga karena ditutup menguat 0,17% di level Rp17.700/US$.

Tapi tenang, jangan langsung panik dan overthinking ya, gaes. Bank Indonesia (BI) langsung bertindak cepat dan gak tinggal diam buat menyelamatkan posisi rupiah. Yuk, kita bedah tuntas penyebab badai dolar ini dan jurus taktis apa aja yang dikeluarkan BI:

Biang Kerok: Bos Baru The Fed Kasih Sinyal ‘Hawkish’ yang Bikin Dolar Melesat

Pelemahan rupiah kali ini emang dipicu oleh faktor eksternal yang lagi chaos, guys. Indeks dolar AS (DXY) terpantau bergerak stabil di area tinggi, yaitu di level 100,821 per pukul 09.00 WIB. Penguatan tajam DXY sebesar 0,76% pada hari sebelumnya bikin para pelaku pasar global kompak memburu aset berdenominasi dolar AS. Yang otomatis menekan pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah kita.

Dolar AS mendadak jadi sekuat ini setelah pasar mencerna hasil rapat bank sentral AS, alias The Federal Reserve (The Fed). Kebetulan, ini adalah pertemuan pertama The Fed di bawah kepemimpinan bos barunya, Kevin Warsh. Komentar dari Warsh yang cenderung singkat ditambah proyeksi terbaru mengenai arah suku bunga langsung memperkuat ekspektasi kalau suku bunga di AS masih berpeluang naik lagi tahun ini. Imbasnya, dolar AS sukses merangkak naik ke level tertingginya dalam lebih dari setahun terakhir.

Jurus 1 BI: BI Rate Naik Lagi Menjadi 5,75%!

Merespons gempuran dari Negeri Paman Sam tersebut, Bank Indonesia langsung mengeluarkan kebijakan agresif dari hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Kamis (18/6/2026) kemarin. BI kembali memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.

Langkah ini diambil demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. Kalau ditotal, BI bener-bener gak kasih kendor karena sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin hanya dalam rentang waktu sekitar satu bulan terakhir. Rinciannya dimulai dari kenaikan 50 basis poin pada RDG Mei 2026. Lalu naik lagi 25 basis poin pada RDG Mingguan pekan lalu, dan ditutup dengan kenaikan 25 basis poin pada RDG Bulanan Juni 2026 kemarin.

Baca Juga : Bos BI Spill Penyebab Dari Rupiah Melemah

Jurus 2 BI: Aturan Beli Dolar Diperketat, Maksimal Cuma US$10.000 Biar Gak Ada Spekulasi!

Gak cuma menaikkan suku bunga acuan, BI juga menerapkan strategi pertahanan super ketat dengan memangkas batas pembelian uang asing (valas) tunai terhadap rupiah yang tanpa dokumen pendukung (underlying).

Mulai 1 Juli 2026, BI memotong batas pembelian tersebut menjadi maksimal US$10.000 per pelaku per bulan. Padahal sebelumnya, BI sempat menetapkan batas tersebut di angka US$25.000 per orang per bulan. Kebijakan potong kompas ini sengaja diambil biar tata kelola pasar keuangan kita makin maju, efisien, pruden, dan pastinya meminimalkan aksi spekulasi borong dolar yang bisa bikin rupiah makin anjlok.

“Kami lakukan untuk menegakkan tata kelola aturan yang ada. Pembelian dolar, khususnya di atas US$10.000 harus ada underlying,” tegas Deputi Gubernur BI, Destry Damayanti, dalam konferensi persnya.

Langkah double protection yang dilakukan oleh Bank Indonesia—baik lewat kenaikan BI Rate maupun pengetatan pembelian dolar tanpa underlying. Menunjukkan kalau pemerintah fokus total buat menjaga daya tarik investasi asing dan menstabilkan nilai tukar rupiah kita. Walaupun rupiah pagi ini dibuka melemah karena efek sentimen bos baru The Fed, kebijakan ketat dari BI diharapkan bisa menjadi tameng yang kuat buat menahan gempuran inflasi global. (Aye/sg)