SUARAGONG.COM – Semangat pelestarian budaya lokal yang inklusif kembali diwujudkan di Kota Malang. Sanggar Budaya Anak Nareswari menggelar kegiatan bertajuk “Harmonisasi Griya Kriya Topeng Ramah Difabel dan Pasar Seni Bareng: Workshop Melukis Topeng Malang” pada Sabtu (25/7/2026).
Mengenal Budaya Malang, Anak-Anak Difabel Ikuti Workshop Sanggar Nareswari
Acara dipusatkan di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel, Jalan Kyai Parseh Jaya No. 29, Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Di mana acara ini menghadirkan ruang ekspresi seni gratis bagi kelompok disabilitas. Serta mengenal akan budaya khas ngalam
Kegiatan ini terlaksana berkat pemanfaatan hasil kelola dana abadi kebudayaan Dukungan Institusional Dana Indonesiana Tahun Anggaran 2025. Di mana didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Ketua Pelaksana Kegiatan sekaligus pengurus Sanggar Budaya Anak Nareswari, Ndaru Lazarus, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memberikan kesempatan setara bagi anak-anak penyandang disabilitas. Kesetaraan dalam mengeksplorasi potensi diri lewat karya seni.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap anak-anak difabel memiliki ruang yang lebih luas untuk berekspresi dan mengembangkan kreativitasnya. Seni dan budaya dapat menjadi media yang mempertemukan berbagai latar belakang sekaligus membangun kepercayaan diri dan kemandirian.” Ujar Ndaru.
Diikuti 15 Peserta Difabel
Sebanyak 15 anak dengan beragam kondisi disabilitas. Mulai dari tuna grahita, rungu wicara, tuna daksa, hingga Down syndrome—tampak antusias mengikuti jalannya pelatihan.
Selama workshop berlangsung, para peserta mendapatkan pendampingan intensif dari para fasilitator. Mereka diajarkan mulai dari pengenalan bentuk, karakter filosofis Topeng Malang, hingga teknik pemolesan warna pada media topeng.
Penyelenggaraan workshop ini juga menjadi rangkaian dari seri pelatihan berkelanjutan yang diadakan oleh Sanggar Nareswari. Sebelumnya, telah dilaksanakan pelatihan membatik sampur pada Mei 2026 dan pelatihan pembuatan fisik topeng pada Juni 2026 lalu.
Baca Juga : Batik Sampur yang Berjiwa Merdeka: Kolaborasi Membatik Anak Difabel & Mahasiswa
Menuju Puncak Acara pada Agustus 2026
Seluruh Rangkaian workshop dan edukasi seni ini nantinya akan bermuara pada acara puncak yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 1 Agustus 2026 mendatang. Acara puncak tersebut bakal dimeriahkan dengan parade tari, pertunjukan sendratasik, serta bazar UMKM lokal.
Melalui program ini, Griya Kriya Topeng Ramah Difabel diharapkan terus konsisten menjadi wadah integrasi antara pelestarian warisan budaya, pemberdayaan ekonomi, dan ruang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. (Ind/Aye/sg)










