SUARAGONG.COM – Rupiah lagi melemah parah sampai Rp17.600 per dolar AS. Presiden Prabowo minta jangan panik karena “orang desa gak pakai dolar”, tapi ekonom langsung semprot: barang di desa sekarang isinya komponen impor semua!
Sebut “Warga Desa Gak Pakai Dolar”, Ekonom: Perlu Briefing Ekonomi 101!
Lagi dan lagi, netizen dihebohkan sama tensi panas antara realita ekonomi versus statement pejabat. Kali ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS baru aja jebol ke angka Rp17.600. Angka yang bikin ketar-ketir ini justru ditanggapi santai sama Presiden Prabowo Subianto.
Saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Sabtu (16/5), Prabowo menyentil pihak yang hobi bikin narasi Indonesia bakal collapse gara-gara dolar ngamuk.
“Sekarang ada yang selalu bilang Indonesia akan collapse, akan chaos, rupiah begini, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok,” kata Prabowo.
Prabowo pede kalau fundamental ekonomi kita masih kuat karena ditopang ketahanan pangan dan energi, plus menganggap masyarakat desa bakal lebih kebal dari gejolak global.
“Pak, Perlu Briefing Ekonomi 101!”
Mendengar analogi “warga desa gak pakai dolar”, para ekonom langsung elus dada. Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, langsung ngasih kritik pedas. Menurutnya, pemikiran kayak gitu terlalu meremehkan masalah dan berpotensi bikin pemerintah abai.
“Prabowo kayaknya perlu di-briefing soal ekonomi 101. Jangan dikira pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar itu tidak akan menjalar ke biaya hidup yang naik di level desa,” sentil Bhima (17/5).
Baca Juga : Prabowo Janji Pemerintah Jamin Kehidupan Keluarga Affan Kurniawan
Kenapa Warga Desa Tetap Kena Imbas Dolar?
Buat kita-kita yang hidup di era modern, narasi “bisa bertahan kayak krisis 1998” itu udah gak valid lagi. Ini alasan kenapa dolar naik tetap bikin warga desa (dan kita semua) menjerit:
- Ketergantungan Energi Modern: Tahun ’98 kalau minyak mahal, orang desa masih bisa beralih ke kayu bakar. Sekarang? Hampir semua rumah tangga pakai gas dan listrik. Begitu subsidi pemerintah gak kuat menahan beban dolar, biayanya pasti melonjak.
- Barang Desa Isinya Impor Semua: Sadar atau enggak, HP yang dipakai warga desa, motor buat angkut hasil bumi, elektronik rumah tangga, sampai pupuk pertanian itu semuanya punya komponen impor yang dibeli pakai dolar. Dolar naik = harga pupuk naik = harga pangan ikut ugal-ugalan.
- Ancaman “Reverse Migration” (Urban ke Rural): Kalau industri di kota boncos gara-gara dolar, bakal ada gelombang PHK massal. Korban PHK ini bakal pulang kampung ke desa dalam kondisi menganggur. Ujung-ujungnya? Desa bakal menanggung beban ekonomi baru.
Jaga Komunikasi Publik, Jangan Dianggap Enteng
Saat ini, pemerintah dinilai terlalu all-in mengandalkan subsidi energi buat meredam efek rupiah. Padahal, struktural ekonomi kita udah terintegrasi banget sama pasar global.
Celios mendesak pemerintah buat berhenti jualan narasi “aman-aman aja” dan mulai menyiapkan stimulus nyata serta komunikasi publik yang lebih realistis. Menolak panik itu bagus, tapi menutup mata dari efek domino Rp17.600 jelas bukan pilihan yang bijak buat kantong rakyat. (Aye/sg)









