Apatte62 Brawijaya Juara di Shell Eco-marathon Tembus Global Championship
Share
SUARAGONG.COM – Tim Apatte62 Brawijaya juara Shell Eco-marathon Asia Pacific and the Middle East 2026 dan sukses mengharumkan nama Universitas Brawijaya serta Indonesia di kancah internasional. Ajang bergengsi ini digelar di Lusail International Circuit, Doha, Qatar, pada 21–25 Januari 2026, dan menjadi panggung unjuk kemampuan mahasiswa dunia dalam inovasi kendaraan hemat energi dan teknologi transportasi berkelanjutan.
Perjuangan Tim Apatte62 Brawijaya di Qatar
Dalam kompetisi ini, Tim Apatte62 Brawijaya turun di dua kategori sekaligus: Team Urban Electric dan Team Prototype Hydrogen. Sejak hari pertama, Rabu (21/1/2026), mereka sudah diuji lewat technical inspection berlapis untuk memastikan kendaraan aman dan sesuai standar. Nggak cuma itu, ada juga track walk, inspeksi lanjutan, sampai sesi latihan intensif sebelum akhirnya masuk ke hari lomba utama. Semua proses ini jadi penentu apakah tim bisa lanjut ke lintasan atau harus pulang lebih cepat.
Baca juga: Pemkot Surabaya Gandeng 32 Kampus Berikan Beasiswa hingga 24 Ribu Mahasiswa
Juara Prototype Hydrogen & Rekor Asia
Puncak perjuangan terjadi pada Jumat hingga Minggu, saat lintasan Lusail jadi saksi adu efisiensi energi antar tim. Tahun ini, sistem penilaian makin ribet karena skor on-track dan off-track dipisah lalu digabung di akhir.
Hasilnya? Apatte62 Brawijaya juara Shell Eco-marathon Asia di kategori Prototype Hydrogen sekaligus mencetak Rekor Asia dengan capaian tertinggi di kelas tersebut. Gokilnya lagi, mereka jadi satu-satunya tim kategori Urban dari kawasan Asia Pacific and the Middle East yang lolos ke Shell Eco-marathon Global Championship 2027. Prestasi ini belum pernah dicapai tim lain di regional tersebut sebelumnya.
Baca juga: Legislator PKS Peringatkan Dampak Sosial Sekolah Garuda di Jawa Timur
Momen Emosional di Balik Kemenangan
Perwakilan tim, Devin Indra Kurniawan, mengaku pencapaian ini benar-benar di luar ekspektasi.
“Kami bahagia dan bangga bisa membawa nama Universitas Brawijaya dan Indonesia ke level internasional. Penilaian tahun ini jauh lebih ketat, jadi hasil ini jujur nggak kami sangka,” ujarnya.
Menurut Devin, momen paling emosional adalah saat pengumuman lolos sebagai qualifier Global Championship 2027.
“Di akhir lomba kami cuma bisa berdoa. Pas diumumin juara dan lolos, rasanya campur aduk, lega, haru, semuanya jadi satu,” tambahnya.
Baca juga: Tragedi Siswa SD di NTT Jadi Alarm, DPR Siapkan Revisi UU Sisdiknas
Inovasi AI Jadi Nilai Plus Tim Apatte62 Brawijaya
Bukan cuma soal kecepatan dan efisiensi energi, Tim Apatte62 Brawijaya juga unggul di sisi inovasi. Mereka mengembangkan sistem keselamatan berbasis edge computing menggunakan Raspberry Pi 5 sebagai otak pemrosesan.
Sistem ini memanfaatkan kamera dan AI YOLOv11 untuk mendeteksi keberadaan manusia serta penggunaan alat pelindung diri secara real-time. Kalau ada pelanggaran keselamatan, sistem langsung kasih peringatan visual dan audio otomatis.
Inovasi ini jadi nilai plus besar di penilaian off-track dan mengantarkan Apatte62 Brawijaya meraih Juara 2 Safety Award.
Bukti Mahasiswa Indonesia Siap Bersaing Global
Keberhasilan Apatte62 Brawijaya juara Shell Eco-marathon Asia jadi bukti nyata kalau mahasiswa Indonesia punya kapasitas besar untuk bersaing di level dunia, khususnya di bidang teknologi transportasi berkelanjutan dan energi bersih.
Dengan tiket ke Global Championship 2027 di tangan, Universitas Brawijaya kini bersiap menghadapi tantangan yang lebih besar. Tim Apatte62 Brawijaya pun bertekad terus menyempurnakan teknologi, meningkatkan performa, dan membawa nama Indonesia makin tinggi di kancah internasional.
Harapannya, capaian ini bukan cuma jadi kebanggaan kampus, tapi juga inspirasi buat generasi muda Indonesia agar berani berinovasi, berkompetisi secara global, dan ikut membangun masa depan teknologi berkelanjutan. (dny)

