Type to search

Jember Pemerintahan

Bupati Jember: Stop Wacana! Lahan Tidur Harus Digarap untuk Warga

Share
Bupati Jember: Stop Wacana! Lahan Tidur Harus Digarap untuk Warga

SUARAGONG.COM – Bupati Jember, Gus Fawait, tampil blak-blakan saat berbicara di forum Universitas Jember, Senin (13/4/2026). Nggak mau lagi terjebak dalam wacana atau teori, ia langsung mengarah ke akar masalah kemiskinan: akses terhadap lahan. Di mana Bupati jember menegaskan untuk stop wacana dan mulai menggarap lahan tidur untuk warga miskin di jember.

No Debat! Bupati Jember Tegaskan Stop Wacana Lahan Tidur Harus Digarap untuk Warga Miskin

Menurutnya, sulit membayangkan kemiskinan ekstrem bisa dientaskan jika sekitar 90 ribu keluarga di Jember tidak diberi kesempatan mengelola lahan produktif. Padahal, di sisi lain, masih ada ribuan hektare lahan milik PTPN dan Perhutani yang belum dimanfaatkan maksimal.

“Lahannya ada, luas. Tapi kenapa rakyat kita masih miskin ekstrem? Berarti ada yang belum nyambung,” tegasnya dengan gaya khas yang to the point.

Ribuan Hektare Siap Digarap

Gus Fawait mengungkapkan, ada sekitar 36 ribu hingga 38 ribu hektare lahan yang sebenarnya berpotensi dimanfaatkan. Lahan-lahan ini selama ini cenderung “tidur” dan belum memberikan dampak ekonomi signifikan.

Solusi yang ia tawarkan cukup sederhana tapi berdampak besar: sambungkan data warga miskin (DTKS) dengan ketersediaan lahan.

Dengan begitu, masyarakat yang benar-benar membutuhkan bisa langsung diberdayakan untuk mengelola lahan tersebut.

Bukan Bantuan Sementara, Tapi Solusi Jangka Panjang

Gus Fawait juga menegaskan, pendekatan pengentasan kemiskinan harus berubah. Bukan lagi sekadar bantuan sosial yang sifatnya sementara, tapi solusi yang berkelanjutan.

“Jangan cuma kasih sembako. Kita harus kasih ‘kail’, bukan ‘ikan’,” kira-kira begitu pesan yang ingin disampaikan.

Dengan akses lahan, masyarakat bisa bekerja, berproduksi, dan punya penghasilan sendiri. Dampaknya tentu lebih panjang dan nyata.

Win-Win Solution untuk Semua Pihak

Menariknya, program ini tidak hanya menguntungkan masyarakat. PTPN dan Perhutani juga diuntungkan karena lahannya jadi lebih produktif dan tetap terjaga.

Artinya, ini bukan sekadar program bantuan, tapi kolaborasi yang saling menguntungkan.

Warga dapat akses ekonomi, sementara perusahaan negara tetap menjaga asetnya dengan baik.

Baca Juga : Nongkrong Asik! Street Food Modern Hadir di Jalan Kartini Jember

Dukungan Mulai Mengalir

Langkah ini langsung mendapat respons positif dari berbagai pihak. Perwakilan BPN Jember hingga DPRD setempat sepakat bahwa regulasi perlu segera disesuaikan agar program ini bisa cepat dijalankan.

Koordinasi dengan pemerintah pusat juga mulai dilakukan, termasuk dengan Kementerian Kehutanan untuk mendukung perluasan program hutan sosial.

Harus Tepat Sasaran, Bukan Salah Orang

Meski terdengar menjanjikan, Gus Fawait mengingatkan bahwa program ini harus dijalankan dengan pengawasan ketat.

Ia tidak ingin lahan tersebut justru jatuh ke tangan pihak yang tidak berhak.

Dengan sinkronisasi data DTKS, targetnya jelas: 90 ribu keluarga miskin ekstrem benar-benar jadi penerima manfaat.

Gaspol Entaskan Kemiskinan

Meski Jember sudah mencatat penurunan angka kemiskinan cukup cepat, Gus Fawait justru meminta semua pihak untuk tidak berpuas diri.

Baginya, ini saatnya “tancap gas”.

Program ini jadi salah satu langkah konkret menuju visi Jember yang lebih adil, di mana aset negara benar-benar dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.

Bukan sekadar wacana, tapi aksi nyata yang langsung menyentuh kebutuhan paling dasar masyarakat: pekerjaan dan penghasilan. (Rio/Aye/sg)

Tags:

You Might also Like