SUARAGONG.COM – Sebuah kesaksian mengerikan datang dari sejumlah Relawan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam gerakan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF). Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten pada Minggu (24/5/2026) sore kemarin, para relawan dan jurnalis ini membeberkan perlakuan keji serta penyiksaan brutal yang mereka alami selama disekap di penjara kapal milik militer Israel (IDF).
KISAH PILU PENJARA ISRAEL: Kesaksian Brutal WNI Relawan Flotilla
Kapal misi kemanusiaan yang mereka tumpangi menuju jalur Gaza, Palestina, dihentikan paksa (diintersep) oleh tentara Israel pada Senin (18/5/2026). Sejak saat itulah, hari-hari mereka berubah menjadi mimpi buruk.
Berikut adalah rangkuman kesaksian pilu dari para WNI relawan Flotilla mengenai kekejaman di balik jeruji besi Israel:
Andre Prasetyo Nugroho (Jurnalis Tempo)
Andre menceritakan bahwa setelah kapalnya dicegat, ia langsung dijebloskan ke sebuah kapal penjara besar milik tentara zionis IDF. Selama ditahan, ia mengalami banyak penyiksaan fisik.
- Borgol yang Menyiksa: Andre disiksa dengan ikatan borgol yang sengaja dipasang sangat kencang hingga meninggalkan bekas luka mendalam di tangannya.
- Intimidasi Suara Keras: Menurut kesaksiannya, para tawanan dibangunkan setiap pagi menggunakan alat khusus yang ditembakkan ke arah telinga. Suara yang dihasilkan begitu memekikkan dan bisa memicu tuli mendakan.
- Relawan Eropa Ditembak: Andre juga melihat rekan aktivis lain dari Eropa ditembak menggunakan peluru karet oleh tentara Israel.
Sebagai bentuk perlawanan, Andre sempat melakukan aksi mogok makan selama beberapa hari di dalam penjara sebelum akhirnya dibebaskan.
“Apa yang saya alami ini tidak ada apa-apanya, hanya setetes, hanya sebutir kecil penderitaan setiap harinya warga Palestina rasakan,” ujar Andre sembari meminta pemerintah RI terus mengupayakan diplomasi kemerdekaan Palestina.
Thoudy Badai Rifan Billah (Jurnalis Republika)
Thoudy yang bertugas mendokumentasikan perjalanan dan momen intersep dari tentara Israel mengaku ruang geraknya langsung dikunci rapat. Tentara Israel sengaja mengganggu dan memutus jaringan komunikasi peserta GSF agar bukti dokumentasi penangkapan tersebut tidak bisa dikirimkan keluar.
Thoudy bersama delegasi Indonesia lainnya ditahan selama kurang lebih empat hari dalam kondisi yang sangat keji. Sama seperti Andre, ia menegaskan bahwa kisah ini bukan tentang dirinya, melainkan tentang penderitaan nyata rakyat Palestina yang harus terus disuarakan oleh masyarakat Indonesia.
Baca Juga : Prabowo Bicara Urgensi Solusi Dua Negara: Israel–Palestina
Rahendro Herubowo (Tim Media GPCI)
Kesaksian yang tidak kalah mengerikan dibagikan oleh Heru. Ia membeberkan runtunan metode penyiksaan yang dilakukan secara sistematis sejak pertama kali rombongan tiba di kapal penjara tersebut.
- Disiram Air Saat Menelungkup: Seluruh aktivis GSF dipaksa menelungkup di sebuah ruangan besar di dalam kapal, lalu tentara Israel menyiramkan air ke sekujur tubuh mereka sebelum diinterogasi satu per satu di ruangan berbeda.
- Kekerasan Fisik Berat: Heru mengaku dipukul berulang kali di bagian kepala, badan depan, hingga bagian belakang. Bahkan saat terjatuh, tubuhnya sempat diinjak-injak oleh tentara Israel.
- Penyiksaan Setrum: “Terakhir saya disetrum sehingga akhirnya saya teriak cukup kencang, baru mereka akhirnya melepaskan,” urai Heru pedih.
- Dipaksa Telanjang & Pelecehan: Selain siksaan fisik, Heru membeberkan ada beberapa titik di mana para tawanan dipaksa untuk ditelanjangi lalu difoto oleh pihak tentara. Ia juga mendengar kabar bahwa beberapa aktivis perempuan mengalami tindakan pelecehan di dalam tahanan.
Selama ditahan, pasokan logistik mereka sangat minim; mereka hanya diberi satu buah roti bulat dan air putih. Heru yang tadinya ikut sepakat melakukan aksi mogok makan terpaksa harus mengisi perut karena kondisi kesehatannya yang terus menurun drastis di dalam sel.
Esensi Isu Ini buat Kita:
Kisah nyata yang dibawa pulang oleh para relawan dan jurnalis Indonesia ini menjadi saksi hidup bahwa pelanggaran hukum humaniter internasional dan hak asasi manusia (HAM) di penjara Israel nyata adanya. Siksaan yang mereka terima selama 4 hari tersebut membuka mata dunia akan penderitaan berlapis yang dirasakan warga Palestina setiap harinya selama puluhan tahun. (Aye/sg)










