SUARAGONG.COM – Belakangan ini, isu pelemahan rupiah terhadap dolar AS makin sering wara-wiri di timeline kita. Depresiasi ini bukan cuma angka di berita ya, tapi efek domino nyatanya bisa bikin harga barang impor meroket, inflasi naik, dan stabilitas ekonomi kita ikut goyang. Situasi ini saking gentingnya sampai bikin publik flashback ke krisis moneter 1998. Rupiah Dalam Bayang-Bayang Resesi?
RUPIAH DALAM BAYANG-BAYANG RESESI: Saatnya Stop FOMO Impor dan Belajar dari Logika Pilot Habibie!
Tapi santai dulu, jangan langsung panik! Dua akademisi dari Politeknik Negeri Malang (Polinema), Dr. Yekie Senja Oktora (pakar Keuangan Makro) dan Indra Lukmana Putra (pakar Akuntansi Keperilakuan), baru aja nge-spill pandangan menarik mereka lewat buku terbarunya yang berjudul MICROECONOMICS (OUTCOME-BASED EDUCATION APPROACH).
Menurut mereka, urusan kuat atau lemahnya rupiah itu gak cuma tugas Bank Indonesia (BI) atau pemerintah doang. Tapi perilaku ekonomi kita sehari-hari sebagai Gen Z juga ikut menentukan! Yuk, kita bedah faktanya:
Struktur Ekonomi Kita Sering “Kena Zonk” Gejolak Global, Kenapa?
Dr. Yekie menjelaskan kalau pelemahan rupiah ini sebenarnya adalah cerminan dari ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran valuta asing.
Kenapa bisa begitu? Karena struktur ekonomi kita masih terlalu manja dan bergantung pada impor bahan baku. Serta hobi konsumsi produk luar negeri. Selama kita masih kecanduan barang impor, rupiah bakal terus-terusan babak belur setiap kali ada gejolak ekonomi global.
Solusi Sat-Set ala Dr. Yekie:
- Hilirisasi Industri & UMKM: Saatnya memperkuat sektor produksi nasional dan digitalisasi UMKM agar kita bisa menciptakan nilai tambah lewat inovasi sendiri.
- Gen Z Kurangi FOMO Impor: Pola konsumsi kita yang hobi checkout barang impor secara gak langsung menaikkan permintaan dolar AS dan makin menjepit posisi rupiah. Saatnya kita beralih mengutamakan produk lokal dan memperkuat investasi domestik.
Faktor Psikologis Pasar: Kepanikan Itu Lebih Menular dari Virus!
Nah, dari sudut pandang perilaku, Indra Lukmana Putra menyoroti aspek psikologis masyarakat saat menghadapi krisis. Menurutnya, krisis ekonomi itu sering kali diperparah oleh kepanikan pasar (panic buying/selling) dan rendahnya literasi keuangan publik.
Kalau masyarakat dan pelaku usaha ikutan pesimis lalu merespons secara berlebihan (seperti melakukan aksi borong dolar secara spekulatif atau menunda konsumsi total), situasi ekonomi bisa bener-bener terseret ke arah resesi ekstrem! Di sinilah pentingnya komunikasi kebijakan pemerintah yang konsisten serta edukasi keuangan yang sehat biar publik gak gampang anxiety.
Baca Juga : LESSON FROM THE GOAT: Cara BJ Habibie Jinakkan Rupiah dari Rp17.000 ke Rp6.500
Mengintip Teori Ekonomi Makro (Biar Gak Polos-Polos Amat)
Biar makin paham esensinya, yuk kenalan sama dua teori ekonomi yang dibahas oleh kedua akademisi Polinema ini:
- Purchasing Power Party (PPP): Teori ini intinya bilang kalau stabilitas harga di dalam negeri itu krusial banget buat menjaga daya beli masyarakat dan kekuatan nilai tukar mata uang. Langkah nyatanya ya dengan ngerem konsumsi barang impor dan naikin pakai produk lokal biar devisa kita gak bocor ke luar negeri.
- Interest Rate Parity (IRP): Teori ini menjelaskan kalau stabilitas suku bunga dan kredibilitas kebijakan moneter itu magnet utama buat narik modal internasional (capital inflow). Kalau suku bunga kita kompetitif dan didukung kepercayaan pasar yang tinggi, investor asing bakal ramai-ramai investasi di Indonesia, otomatis permintaan terhadap rupiah bakal meningkat tajam!
Flashback Zaman Pemulihan B.J. Habibie
Pendekatan berbasis produktivitas dan efisiensi pasar ini dinilai sangat relevan dengan sejarah besar Indonesia di masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie.
Seperti yang kita tahu, Pak Habibie dulu sukses membangun kembali kepercayaan ekonomi nasional yang sempat minus parah lewat reformasi struktural, disiplin kebijakan fiskal-moneter, serta partisipasi aktif masyarakat yang kembali mencintai produk dalam negeri. Ga ada tuh Rupiah Dibayang-bayang Resesi.
Kesimpulan buat Gen Z:
Stabilitas rupiah dan ketahanan nasional itu adalah hasil sinergi bareng-bareng. Intervensi pemerintah gak akan pernah cukup kalau kita sebagai masyarakat masih hobi bergaya hidup konsumtif terhadap produk impor dan gampang panik karena rumor pasar.
Saatnya bangun pola ekonomi yang rasional: dukung industri kreatif lokal, beli produk dalam negeri, dan tingkatkan produktivitas usaha kita. Stay educated and stay rational, guys! (Ind/Aye/sg)
Penulis : Indra Lukmana Putra (pakar Akuntansi)










