SUARAGONG.COM – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Malang, Muslimin, S.Pd., M.H., mendorong penguatan agribisnis bawang merah di Kabupaten Malang tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi semata. Melainkan mencakup penguatan seluruh rantai usaha, mulai dari hulu, budidaya, panen, pascapanen, pengolahan, hingga pemasaran.
Sejahterakan Petani: Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Malang Perkuat Agribisnis Bawang Merah
Menurutnya, peran Pemerintah Kabupaten Malang sangat penting dalam mendongkrak produktivitas, pendapatan, serta kesejahteraan petani bawang merah. Ia juga menyinggung arahan Kementerian Pertanian yang menekankan pentingnya stabilitas input, pendampingan agribisnis, akses pembiayaan dan pasar, teknologi, kelembagaan petani, hingga modernisasi rantai pasok.
Di sektor hulu, Muslimin mengusulkan sejumlah langkah untuk meningkatkan produktivitas. Di antaranya pemberian subsidi atau bantuan benih berkualitas, pupuk, dan pestisida kepada kelompok tani. Ia juga mendorong pembangunan dan perbaikan sarana irigasi, embung, serta pompanisasi air untuk menjamin ketersediaan air saat musim kemarau. Yang juga merujuk pada keberhasilan sejumlah program integrasi Kementerian Pertanian yang terbukti menaikkan hasil panen.
Selain itu, ia menekankan pentingnya pendampingan teknologi lewat penyediaan penyuluh pertanian lapangan. Hal ini agar petani dapat menerapkan teknik budidaya yang lebih baik dan efisien.
Perbaikan Kualitas Benih dan Budidaya Berbasis Teknologi
Muslimin juga mendorong penggunaan varietas unggul yang sesuai dengan agroekosistem setempat, pengembangan penangkaran benih di tingkat kelompok tani, hingga pengolahan tanah dan pemupukan yang disesuaikan dengan kondisi tanah. Manajemen air dan drainase, penggunaan mulsa, serta teknologi budidaya yang tepat turut menjadi perhatian.
Ia menyebut penguatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yang dikombinasikan dengan peningkatan populasi tanaman dan manajemen hara-air. Sehingga berpotensi mendongkrak produktivitas hingga lebih dari 30 ton per hektare pada kondisi yang sesuai.
Penguatan Sektor Hilir: Kawasan Sentra hingga Fasilitas Gudang Simpan
Untuk memperkuat sektor hilir, Muslimin mengusulkan pembangunan kawasan sentra bawang merah, di mana petani diarahkan dalam satu kawasan atau klaster. Agar pengadaan benih, pupuk, alat mesin pertanian, penyuluhan, pengairan, panen, hingga pemasaran dapat dilakukan bersama.
Ia juga mendorong pembentukan kelembagaan ekonomi petani, dengan meningkatkan status kelompok tani menjadi koperasi yang mampu melakukan pembelian input secara kolektif, mengelola produksi, menyimpan hasil, dan melakukan kontrak pemasaran. Selain itu, ia menekankan pentingnya pelatihan pascapanen, khususnya teknik curing atau pengeringan yang tepat agar bawang merah lebih tahan lama.
Dua usulan lain yang disampaikan adalah penyediaan fasilitas gudang simpan (resi gudang) agar petani bisa menahan stok saat harga jatuh dan melepasnya saat harga menguntungkan. Serta pengembangan industri olahan seperti bawang goreng atau bumbu instan kemasan untuk mendorong hilirisasi produk.
Stabilisasi Pendapatan lewat Kepastian Pasar dan Digitalisasi
Muslimin turut menyoroti pentingnya kepastian pasar bagi petani. Ia mendorong pemerintah daerah mempertemukan kelompok tani dengan pasar tradisional, pasar modern, restoran dan hotel, industri makanan, hingga distributor. Kemitraan pasar langsung dinilai penting untuk memotong rantai pasok yang terlalu panjang antara petani dan pedagang besar, sehingga margin keuntungan petani bisa lebih besar.
Ia juga mengusulkan operasi pasar dan pemantauan harga guna menjaga stabilitas harga di tingkat lokal dan mencegah jatuhnya harga saat panen raya. Serta digitalisasi agribisnis lewat aplikasi atau grup WhatsApp untuk mencatat luas tanam, umur tanaman, perkiraan panen, produksi, harga, dan kebutuhan pasar. Data tersebut nantinya bisa dimanfaatkan untuk mengatur waktu tanam agar produksi tidak menumpuk dalam waktu bersamaan.
Baca Juga : 4 Ranperda Disosialisasikan DPRD Kabupaten Malang
Penguatan Kelembagaan Petani dan Akses Permodalan
Di sisi kelembagaan, Muslimin mendorong pengembangan Kelompok Tani (Poktan) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang kuat. Agar petani lebih mudah mendapat akses kredit permodalan, bantuan pemerintah, dan posisi tawar yang lebih baik. Ia juga mengusulkan fasilitasi akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk membantu petani membiayai musim tanam.
Usul Konsep “Kawasan Bawang Merah Terpadu”
Sebagai penutup paparannya, Muslimin menyampaikan model penguatan agribisnis yang ia sarankan mengikuti rantai nilai. Antaranyta mulai dari benih dan sarana produksi, budidaya modern, PHT, panen, sortasi/grading, penyimpanan, pengolahan, offtaker/pasar, hingga nilai tambah yang bermuara pada kesejahteraan petani.
Ia mencontohkan konsep “Kawasan Bawang Merah Terpadu”, di mana satu kawasan menjadi pusat produksi sekaligus pusat ekonomi petani. Muslimin merujuk pada program UPLAND di Kabupaten Malang yang diberitakan Kementerian Pertanian pada Juli 2026, yang menunjukkan bahwa kombinasi teknologi budidaya, infrastruktur, dan pendampingan mampu meningkatkan produktivitas bawang merah secara signifikan, dari sekitar 3–5 ton per hektare. (Aye/sg)










