Dipha Barus x Hindia Rilis “Nafas” : Putus Rantai Generational Trauma

Dipha Barus x Hindia Rilis "Nafas", Bahas Luka Keluarga yang Jadi Rahasia Umum
Dipha Barus x Hindia Rilis "Nafas", Bahas Luka Keluarga yang Jadi Rahasia Umum

SUARAGONG.COM Masalah kesehatan mental dan “drama” keluarga memang nggak pernah ada habisnya dibahas sama Gen Z. Kali ini, dua musisi ikonik tanah air, Dipha Barus dan Hindia (Baskara Putra), resmi berkolaborasi lewat single terbaru bertajuk “Nafas”. Bukan sekadar lagu kolaborasi biasa, karya ini punya misi mendalam: membedah sekaligus memutus rantai generational trauma.

Dipha Barus x Hindia Rilis “Nafas”, Bahas Luka Keluarga yang Jadi Rahasia Umum

Baskara Putra memang dikenal sebagai penulis lirik yang “ngena” banget ke realita anak muda. Baginya, “Nafas” adalah potret perjuangan sehari-hari atau daily struggle yang sering kita abaikan.

“Lagu ini tentang melewati hal-hal kecil yang inconveniently mengganggu hidup, tapi tetap dijalani. Always carry on meski sulit,” ungkap Baskara.

Namun, di balik narasi keseharian itu, terselip pesan kuat tentang bagaimana luka batin sering kali diwariskan dari orang tua ke anak secara turun-temurun. Keluarga yang seharusnya jadi safe space, terkadang malah jadi sumber luka yang tabu untuk dibicarakan.

Memutus Siklus Tanpa Dendam

Baskara berbagi sudut pandang personalnya dalam lirik “Nafas”. Ia mengajak kita untuk sadar bahwa perilaku kita saat ini mungkin “warisan” dari pola asuh masa lalu.

“Siklus itu hanya bisa berhenti kalau saya mengakui hal tersebut dan tidak menyimpan dendam,” tambahnya. Pesan ini terasa sangat relevan bagi Gen Z yang saat ini mulai gencar menyuarakan pentingnya breaking the cycle demi kesehatan mental yang lebih baik di masa depan.

Luka Pribadi yang Ternyata Kolektif

Dari sisi musikal, Dipha Barus memberikan sentuhan yang kontemplatif namun tetap dinamis. Dipha menyadari bahwa penderitaan yang kita kira sangat personal, sebenarnya adalah luka kolektif yang dialami banyak orang secara struktural.

Uniknya, “Nafas” tidak dibuat gelap dan suram. Dipha membangun kontras lewat musik yang bergerak maju, seperti aktivitas lari yang sering ia lakukan saat sedang feeling low.
“Tubuh bergerak maju, tapi justru kontemplasi. ‘Nafas’ sebenernya mimik proses itu,” jelas Dipha.

Baca Juga : Ketika Lagu Peradaban Dibajak untuk Menindas Minoritas

“Nafas” bukan cuma lagu yang enak didengar sambil bengong di transportasi umum, tapi juga sebuah pengingat bahwa mengakui luka lama adalah langkah awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Lagu ini menjadi ruang aman bagi siapa pun yang sedang berproses menyembuhkan diri.

Gimana Gaes? Sudah siap memutus rantai trauma bareng Dipha Barus dan Hindia minggu ini? (Aye/sg)