SUARAGONG.COM – Guys, kalau beberapa tahun lalu dunia kerja sempat dihebohkan sama tren job hopping (hobi kutu loncat alias hobi pindah-pindah tempat kerja). Belakangan ini justru muncul istilah baru yang berbalik arah 180 derajat. Istilah itu adalah Job Hugging!
Fenomena “memeluk erat” pekerjaan yang sekarang lagi marak banget dibicarakan di media internasional hingga lokal. Banyak anak muda, bahkan pekerja yang sudah berpengalaman, lebih memilih bertahan di posisi sekarang ketimbang resign buat mencoba tantangan baru.
Sebenarnya, apa sih job hugging ini, kenapa bisa muncul, dan bagaimana realitanya di Indonesia? Yuk, kita kupas pelan-pelan:
Apa Sih Sebenarnya Job Hugging Itu?
Secara sederhana, job hugging adalah kecenderungan seseorang untuk tetap bertahan di pekerjaannya saat ini. Meskipun sebenarnya di luar sana ada peluang karier lain yang bisa jadi jauh lebih baik.
- Bukan karena Terlalu Cinta: Menariknya, melansir data dari iHire, fenomena ini sering kali muncul bukan karena mereka puas banget sama pekerjaannya.
- Takut Proses Rekrutmen: Banyak pekerja memilih bertahan murni karena malas dan gak nyaman menghadapi proses rekrutmen dari awal lagi. Mulai dari deg-degan wawancara kerja, harus adaptasi lagi dengan budaya kantor baru. Hingga adanya risiko besar kalau ternyata lingkungan kerja barunya zonk alias gak cocok.
Mengapa Fenomena Ini Bisa Muncul?
Job hugging gak lahir begitu saja tanpa sebab. Ada beberapa faktor makro dan psikologis yang bikin pekerja jadi super waspada, di antaranya:
- Ketidakpastian Ekonomi & Pasar Kerja Melemah: Berita tentang inflasi, ancaman resesi, hingga badai PHK massal di berbagai sektor bikin orang mikir dua kali buat resign. Ditambah lagi, proses perekrutan tenaga kerja baru secara global memang terpantau melambat, sehingga lowongan kerja jadi lebih terbatas.
- Kecemasan Teknologi: Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang super cepat bikin sebagian pekerja cemas dan ragu apakah skill yang mereka miliki sekarang bakal tetap relevan kalau mereka nekat pindah ke tempat baru.
- Keamanan Finansial & Benefit: Pekerjaan sekarang dinilai sudah aman karena menawarkan jaminan kesehatan tetap, tunjangan, atau fleksibilitas waktu yang belum tentu bisa ditemukan di kantor baru.
Realita Job Hugging di Indonesia: Angka Pengangguran Tertinggi se-Asean!
Fenomena ini juga nyata banget terjadi di sekitar kita. Penelitian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan banyak pekerja di Indonesia memilih tetap bertahan di tempat kerja sekarang meski mereka sebenarnya merasa kurang puas.
Prof. Dr. Tadjuddin Noer Effendi, M.A., mengungkapkan bahwa situasi pasar kerja dalam lima tahun terakhir di Indonesia memang sedang tidak menentu. Laju ekonomi melambat, daya beli rendah, dan angka pengangguran kita cukup tinggi.
“Mencari pekerjaan baru memiliki risiko yang tinggi, maka mereka cenderung memilih bertahan… Lebih baik bertahan dengan pekerjaan yang ada saat ini daripada mengambil keputusan yang cukup berisiko dan belum pasti untuk kedepannya,” ungkap Prof. Tadjuddin.
Beliau bahkan menganalogikan situasi dilematis para pekerja saat ini dengan sebuah pepatah kuno: “Berharap burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan.” Daripada mengejar sesuatu yang belum pasti di luar sana tapi malah kehilangan apa yang sudah digenggam, pekerja memilih bermain aman.
Fakta mirisnya, akibat perlambatan ekonomi ini, serapan tenaga kerja baru untuk fresh graduate jadi ikut tersendat. Angka pengangguran di Indonesia dilaporkan mencapai 7,4 persen dan menjadi yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Di mana mayoritas pengangguran didominasi oleh usia produktif/pencari kerja antara 15 hingga 24 tahun.
Terlebih lagi tuntutan untuk sekedar kebutuhan harian pun ikut naik. Namun tidak dengan hasil upah pekerja. Kerja banyak, tapi yang layak belum tentu ada. Mau gimana pun kalau kebutuhan hidup saja kurang ya bakal susah juga.
Baca Juga : Apa Sih Pekerjaan Digital Marketer Itu?
“Jalan Pintas” ala Pekerja Zaman Sekarang: Double Job!
Daripada nekat resign dan menanggung risiko tinggi, Prof. Tadjuddin membeberkan strategi cerdik yang banyak diambil oleh pekerja lokal saat ini.
Pekerja memilih jalan pintas dengan menambah pekerjaan sampingan tanpa melepaskan pekerjaan utamanya. Mereka memilih bertahan di kantor lama demi mengamankan pendapatan tetap, sambil mencari cuan tambahan lewat kerja sampingan. Seperti menjadi freelance, Part-time atau membuka bisnis kecil-kecilan.
Job hugging bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, tren ini bagus banget buat memberikan rasa aman, jaminan finansial, dan stabilitas mental di tengah dunia yang lagi gak menentu. Tapi di sisi lain, kalau kamu kelamaan berada di comfort zone, ada risiko karier kamu mengalami stagnasi dan menghambat pengembangan potensi diri.
Kuncinya ada pada balance alias keseimbangan antara rasa aman dan pertumbuhan karier kamu. (Aye/sg)










