SUARAGONG.COM – Data kebencanaan di Kabupaten Jember menunjukkan angka yang mencengangkan pada awal tahun 2026. Berdasarkan catatan resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jember, tercatat sebanyak 276 kejadian bencana terjadi hanya dalam kurun waktu Januari hingga Maret.
Data BPBD: Jember Hadapi 3 Kejadian Bencana per Hari di Awal 2026
Jika dirata-ratakan, wilayah ini mengalami sekitar tiga kejadian bencana setiap harinya. Kondisi tersebut mempertegas munculnya julukan “supermarket bencana” bagi Jember karena tingginya frekuensi dan variasi kejadian.
Didominasi Bencana Alam
Dari total kejadian tersebut, sekitar 88 persen atau 243 insiden merupakan bencana alam murni. Banjir dan angin kencang menjadi penyumbang terbesar dalam statistik kebencanaan tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kondisi cuaca ekstrem masih menjadi ancaman utama bagi wilayah Jember dalam beberapa tahun terakhir.
Dampak Nyata di Sektor Pertanian
Salah satu contoh dampak signifikan terjadi di Kecamatan Wuluhan. Dalam waktu kurang dari tiga jam, angin kencang menyebabkan kerusakan besar di Desa Kesilir dan Desa Tanjungrejo.
Tercatat sebanyak 51 pohon tumbang dan 14 gudang tembakau roboh. Kerusakan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memukul sektor ekonomi, khususnya komoditas tembakau yang menjadi andalan masyarakat setempat.
Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, menjelaskan bahwa kondisi geografis Jember membuat wilayah ini rentan terhadap berbagai jenis bencana.
Selain bencana “basah” seperti banjir dan longsor, Jember juga memiliki risiko tinggi terhadap bencana “kering” seperti kekeringan yang dapat terjadi dalam waktu singkat.
“Karakteristik wilayah Jember membuat transisi antar jenis bencana berlangsung cepat, sehingga perlu kesiapsiagaan yang tinggi,” ujarnya.
Strategi Mitigasi Berbasis Masyarakat
Untuk menghadapi kondisi tersebut, BPBD mendorong masyarakat menerapkan langkah mitigasi sederhana namun efektif, di antaranya:
- Mengidentifikasi titik rawan banjir dan longsor secara mandiri
- Melakukan reboisasi dan penanaman pohon sebagai penahan angin
- Mengoptimalkan sistem pelaporan cepat saat terjadi bencana
Langkah ini diharapkan mampu menekan dampak kerusakan sekaligus mempercepat penanganan di lapangan.
Selain pemerintah, peran relawan menjadi faktor penting dalam penanganan bencana di Jember. Kelompok seperti Relawan Gumitir, Cak Mat, dan Cak Sul disebut sebagai garda terdepan dalam deteksi dini.
Kecepatan laporan dari para relawan terbukti membantu mempercepat respons penanganan, sehingga potensi kerugian dapat diminimalisir.
Baca Juga : Jember Hadapi Kemarau Ekstrem: Status Siaga Darurat
Pengingat Penting bagi Semua Pihak
Data ini menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa ancaman bencana di Jember semakin meningkat.
Upaya menjaga lingkungan dan meningkatkan kesadaran mitigasi tidak lagi menjadi pilihan, melainkan keharusan demi menjaga stabilitas wilayah dan keselamatan masyarakat.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, relawan, dan masyarakat, diharapkan dampak bencana dapat ditekan dan ketahanan daerah semakin kuat menghadapi berbagai ancaman ke depan. (Rio/Aye/sg)










