Dolar Melambung Tinggi Bikin Warga Desa Sekarat

Ketika rupiah melemah sampai Rp 17.500 perdolar AS, pihak yang paling pertama dan paling babak belur adalah warga desa.
Ketika rupiah melemah sampai Rp 17.500 perdolar AS, pihak yang paling pertama dan paling babak belur adalah warga desa.

SUARAGONG.COM – Pernah denger narasi kalau “Warga desa aman dari krisis global karena transaksinya gak pakai dolar”? Terdengar menenangkan ya? Tapi jujur, itu blunder dan keliru banget secara ekonomi!

Dolar Naik Justru Yang Kena Warga Desa?

Ekonom dari Center of Reform on Economics (Core), Yusuf Rendy Manilet, langsung buka suara. Faktanya, ketika rupiah melemah sampai Rp 17.500 perdolar AS, pihak yang paling pertama dan paling babak belur dihantam bukan anak-anak Jaksel atau orang kantoran di SCBD, melainkan warga desa.

Gimana bisa orang yang gak pernah liat fisik uang dolar malah jadi korban paling rentan? Ini rahasia gelap rantai pasok ekonomi yang wajib Gen Z pahami:

1. Modal Tani Naik Gila-gilaan (Dolar Mengacak-acak Sawah)

Masyarakat desa mayoritas hidup dari bertani. Nah, dolar yang melambung tinggi itu langsung “menyerang” sawah mereka lewat jalur ini:

  • Pupuk Impor: Bahan baku pupuk nonsubsidi (Urea & NPK) itu belinya impor pakai dolar. Saat dolar mahal, harga pupuk ikutan melejit.
  • Pakan Ternak: Ayam dan sapi di desa butuh makan, dan pakan ternak kita itu sangat bergantung pada jagung dan bungkil kedelai impor.
  • Solar & BBM: Harga bensin dan solar dipengaruhi harga minyak dunia yang standarnya pakai dolar.

Efeknya: Biaya produksi petani kecil melonjak drastis. Mau gak mau, harga jual pangan terpaksa dinaikkan demi bisa bertahan hidup.


2. “Tertembak” Dolar Lewat Tahu, Tempe, dan Mi Instan

Pernah mikir gak kenapa harga tahu-tempe di warung desa bisa ikutan naik atau ukurannya makin tipis pas rupiah melemah? Jawabannya: Karena Indonesia masih ketergantungan impor kedelai, gula mentah, dan gandum. Tepung terigu buat gorengan dan gandum buat mi instan andalan warga itu dibeli pake dolar. Jadi, meskipun transaksinya di warung desa pakai rupiah, harga barangnya sudah “ditembak” duluan oleh kurs dolar yang melambung tinggi.


3. Jeratan Teori “Engel’s Law” (Kenapa Warga Desa Paling Sengsara?)

Ada teori ekonomi namanya Engel’s Law: Semakin kecil pendapatan sebuah keluarga, maka semakin besar persentase uang mereka yang habis HANYA untuk makan dan energi.

Orang kota kalau uangnya mepet bisa mengurangi jajan kopi susu, beralih dari bioskop ke Netflix, atau mencairkan tabungan dan aset crypto mereka. Tapi warga desa berpendapatan rendah gak punya pilihan itu. Pendapatan mereka Rp 2 juta – Rp 3 juta sebulan sudah habis murni buat beli beras, minyak, gas, dan lauk.

Begitu harga pangan dan energi naik akibat efek exchange rate pass-through (dampak langsung pelemahan kurs ke harga barang), daya beli riil warga desa langsung tergerus 3% sampai 5%.


4. Kehilangan Rp 150 Ribu Itu Masalah Hidup dan Mati

Bagi orang kota, kehilangan uang Rp 60.000 sampai Rp 150.000 sebulan mungkin cuma berasa kayak berkurang satu porsi makanan di kafe. Tapi bagi keluarga rentan miskin di desa, nominal segitu sangat signifikan.

Uang segitu bisa jadi penentu apakah anak mereka bisa jajan sekolah, apakah mereka bisa beli obat generik di Puskesmas (yang fyi, bahan baku obatnya juga diimpor pake dolar dari China & India), atau apakah dapur mereka bisa tetep ngebul besok pagi.

Baca Juga : Di 2026, Purbaya Targetkan Pertumbuhan Ekonomi RI 6%


Gaboleh Disepelein

Pak Yusuf juga ngingetin kalau narasi “warga desa aman karena gak pakai dolar” itu berbahaya. Selain menutup mata dari realita kalau warga desa lagi menjerit karena harga barang naik, narasi ini bisa bikin investor asing mikir kalau pemerintah pasrah dan gak mau nge-jaga batas psikologis rupiah. Akibatnya? Investor kabur (capital outflow), rupiah makin anjlok, dan harga-harga di desa bakal makin gak kekontrol.

Jangan gampang kemakan narasi santai. Efek dolar melambung tinggi itu gak main-main kasihan ke warga desa. Mereka gak pernah ngerasain untungnya transaksi pakai dolar, tapi pas dolar ngamuk, mereka yang harus bayar mahal lewat harga piring nasi mereka sehari-hari. Stay critical and speak up! (Aye/sg)