SUARAGONG.COM – Guys, kalau kamu mikir melestarikan budaya itu harus kaku dan ngebosenin, kamu wajib liat kegiatan super keren yang baru aja digelar di Kota Malang ini. Gak cuma sekadar melestarikan tradisi, acara ini jadi bukti nyata kalau seni dan budaya itu milik semua orang tanpa terkecuali, inklusif, dan punya vibe yang positif banget! Pada Sabtu, 16 Mei 2026, Griya Kriya Topeng Ramah Difabel resmi menggelar pelatihan batik sampur (selendang tari) di Sanggar Budaya Anak Nareswari, Kedungkandang, Kota Malang.
Batik Sampur yang Merdeka: Ketika Keterbatasan Fisik Luluh dalam Goresan Malam Panas Bersama Mahasiswa
Acara ini diikuti oleh 15 anak difabel beserta pendamping mereka, dan kerennya lagi, didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan, LPDP, dan Dana Indonesiana lewat Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan.
Mau tahu seseru dan seterharu apa suasananya? Yuk, kita intip recap-nya:
Opening yang Bikin Merinding & Hipnotis Penonton
Acara dibuka dengan penuh khidmat lewat lagu “Indonesia Raya”. Tapi, suasana bener-bener bergetar pas Ananda Zaki, seorang penari difabel berbakat, maju ke tengah ruangan.

Dengan gerakan lincah nan sarat makna yang diiringi musik tradisional, Zaki membawakan Tari Topeng dengan sangat memukau. Penampilan ini seolah jadi simbol hidup kalau keterbatasan fisik sama sekali bukan penghalang untuk bersinar lewat tradisi lokal.
Ketika Tren Mode Global “Membaur” dengan Tradisi Lokal
Ada pemandangan yang estetik banget di pelatihan kali ini. Sebanyak 47 mahasiswa Fashion Design & Business Universitas Ciputra Surabaya ikutan datang langsung ke lokasi bareng dosen mereka, Jane Rine Teowarang.
Mahasiswa yang sehari-harinya bergulat dengan tren mode global dan strategi bisnis fesyen modern ini duduk membaur hangat dengan anak-anak difabel.
- Bagi Mahasiswa: Mereka belajar tentang empati, kesabaran, dan nilai filosofis dari karya tangan.
- Bagi Anak Difabel: Ada rasa bangga tersendiri karena karya mereka diapresiasi langsung oleh calon desainer masa depan.
Kolaborasi ini sekaligus membuka peluang besar kalau sampur batik karya anak-anak istimewa ini kelak bisa naik kelas jadi produk fashion bernilai tinggi di pasar luas.

Belajar Filosofi dan Doa di Atas Kain Motif Truntum
Sesi inti dipandu oleh instruktur batik Yuharsita dari Bengkel Batik. Uniknya, anak-anak gak langsung disuruh pegang canting, melainkan diajak dengerin cerita dulu.
Yuharsita menjelaskan kalau batik itu bukan cuma kain bergambar biasa, melainkan sebuah doa dan cerita yang ditorehkan lewat malam (lilin) panas. Mereka dikenalkan dengan motif Megamendung, Sekarjagad, Batik Tiga Negeri, hingga istilah dasar kayak glowong (garis luar motif) dan isen-isen (isiannya). Khusus hari itu, mereka membuat motif truntum yang anggun pada kain sampur mereka.
Proses Membatik Sebagai Terapi Motorik yang Seru
Pas praktik dimulai, ruangan langsung riuh dan hidup. Menggoreskan malam panas pakai canting ternyata jadi media terapi motorik yang menyenangkan buat anak-anak difabel.
Didampingi para mahasiswa Ciputra dan instruktur, interaksi berjalan sangat cair. Ada tawa lepas pas lilinnya gak sengaja melenceng dari pola. Tapi justru di sanalah keajaibannya: ketidaksempurnaan goresan tangan itulah yang bikin tiap lembar sampur jadi unik, authentic, dan gak ada kembarannya di dunia!
Road to Agustus: Kurikulum Seni dari Bikin Topeng Sampai Parade!
Menurut Brelliane Semesta Pratiwi selaku Bendahara Acara, pelatihan membatik ini baru babak awal dari rangkaian kurikulum seni yang matang:
- Juni 2026: Peserta bakal belajar bikin topeng dari bahan dasar buat melatih imajinasi spasial.
- Juli 2026: Tahap melukis topeng untuk memberikan karakter dan “nyawa”.
- 1 Agustus 2026 (Puncak Acara): Bakal digelar perayaan besar berupa parade tari, sendratari, dan bazar UMKM.
Plot twist yang manisnya: sampur yang dibatik hari ini bakal mereka pakai sendiri saat menari menggunakan topeng buatan mereka di acara puncak nanti! Keren banget, sebuah siklus karya yang utuh dan mandiri. Plus, seluruh rangkaian acara dari Mei sampai Agustus ini gratis dan ramah difabel.
Melestarikan budaya lewat cara gotong royong modern kayak gini bener-bener membuka mata kita. Griya Kriya Topeng Ramah Difabel ini sukses jadi “rumah” hangat tempat mimpi-mimpi anak difabel diberi ruang buat tumbuh dan bersinar.
Yuk, kita dukung terus ruang-ruang inklusif kayak gini! Budaya lestari, empati pun terasah! (Ind/aye/sg)
Penulis : Indra Lukmana Putra (Akademisi Polinema)










