SUARAGONG.COM – Penimpaan mural “Malang The Glory Land” dengan tulisan baru “Malang Menyala Bersama” memicu protes dari sejumlah warga dan komunitas di Kota Malang. Menanggapi kecaman publik tersebut, panitia Festival Mbois meminta maaf dan berjanji akan mengembalikan mural “Malang The Glory Land” seperti sedia kala.
Protes muncul karena mural “Malang The Glory Land” menandai momen bersejarah dari tahun 2016 dan memiliki makna khusus bagi Aremania di Kota Malang. Sejumlah warganet mempertanyakan alasan penimpaan mural yang sudah lama berdiri di lokasi tersebut. Pengecatan ulang itu dinilai tidak sepenuhnya mengembalikan orisinalitas karya yang telah dibuat sejak 2016.
Mural “Malang The Glory Land Ditimpa: Hapus Nilai Sejarah dan Memori Kolektif
Salah satu kritik datang dari akun Instagram @arema_uthenlife. Akun tersebut menilai penggantian mural bukan sekadar mengubah tampilan tembok, tetapi juga menghapus nilai sejarah dan memori kolektif yang melekat pada karya tersebut.
“Nilai sejarah, keaslian sentuhan tangan dan memori kolektif bertahun-tahun mati seketika saat cat baru menutupi tembok itu,” tulis akun tersebut dalam unggahannya.
Panitia Berjanji Cat Ulang Sesuai Aslinya
Sementara itu, pihak Festival Mbois menyampaikan permintaan maaf melalui akun resminya. Panitia mengakui bahwa tulisan “Malang The Glory Land” menyimpan cerita dan makna bagi sejumlah pihak di Kota Malang. Panitia menyatakan akan membuat ulang tulisan tersebut sebagai bentuk tanggung jawab dan penghormatan terhadap karya sebelumnya.
“Kami berkomitmen untuk mengecat dan membuat ulang tulisan ‘MALANG THE GLORY LAND’ seperti sedia kala,” demikian pernyataan resmi Festival Mbois.
Koordinator MCF: Tidak Tahu Langsung Soal Insiden
Koordinator Malang City Festival (MCF), Dadik Wahyu Chang, menyampaikan permintaan maaf melalui video berdurasi sekitar 26 detik. Dalam video tersebut, Dadik mengaku tidak mengetahui secara langsung soal insiden penimpaan mural itu.
Berdasarkan penelusuran, penimpaan mural di Jalan Arif Rahman Hakim, kawasan sekitar Alun-Alun Kota Malang, terjadi pada Rabu, 19 Agustus 2026. Sebagai bagian dari rangkaian Festival Mbois 11.
Ia menyatakan akan mengomunikasikan persoalan ini dengan tim yang mengerjakan mural tersebut. Pernyataan itu disampaikan setelah muncul protes dari publik dan berbagai komunitas.
Baca Juga : Euforia HUT Arema ke-38, Ribuan Aremania Konvoi ke Stadion Kanjuruhan
Undang Publik Ikut Terlibat dalam Pengecatan Ulang
Panitia Festival Mbois juga mengundang pihak-pihak yang berkepentingan untuk turut ambil bagian dalam proses pengecatan ulang. Mereka berharap persoalan ini dapat diselesaikan melalui komunikasi dan semangat kebersamaan.
Sebagai informasi, Festival Mbois 11 tahun ini mengusung tema “Malang Menyala” dan digelar di Stadion Gajayana, Kota Malang, mulai Jumat hingga Minggu, 21–23 Agustus 2026. (Aye/sg)










