SUARAGONG.COM – Guys, belakangan ini jagat media sosial lagi ramai banget membicarakan sosok Fatimah Azzahra. Video orasinya saat memimpin barisan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) turun ke jalan menuntut perbaikan ekonomi nasional sukses berseliweran di fyp. Bahkan sampai membuatnya bolak-balik diundang ke program bincang-bincang televisi.
BEDAH PIKIRAN! Wakil Ketua BEM UI Fatimah Azzahra Kritik Keras Pemerintah
Sebagai Wakil Ketua BEM UI, Fatimah secara blak-blakan menyuarakan keresahan mendalamnya terhadap arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran. Melansir wawancara hangat bersama Liputan6.com, Fatimah membedah sejumlah rapor merah dan “kegamangan” konsep pemerintah. Yang mana dinilai bikin kondisi akar rumput makin pelik.
Yuk, kita bedah poin-poin pemikiran kritis dari sang aktivis kampus ini:
Absennya Kepemimpinan Programatik: Rakyat Butuh A, Pemerintah Bikin B
Fatimah mengawali pandangannya dengan mengakui kalau Presiden Prabowo dan Wapres Gibran sebenarnya punya visi yang sangat besar dalam membangun Indonesia. Namun, ada satu hal krusial yang justru absen dari kepemimpinan mereka saat ini.
“Namun yang saya rasa absen, justru kepemimpinan atas hal-hal programatik,” ujar Fatimah, Rabu (17/6/2026).
Menurut sudut pandang BEM UI, saat ini ada beberapa program pemerintah yang terkesan sangat dipaksakan berjalan. Padahal, kondisi riil masyarakat di lapangan sedang jauh lebih membutuhkan kebijakan atau solusi lain. Akibatnya, sumber daya negara yang sangat besar malah habis dikorbankan untuk agenda yang konsep dan tujuannya masih belum konsisten.
Fatimah dengan tegas menyayangkan keputusan pemerintah yang seolah mengabaikan solusi nyata yang sudah tersedia. Demi menjalankan program yang ia sebut sebagai “proyek percobaan”.
Sektor Kesehatan & Pendidikan Jadi Korban Riil
Gak asal kritik, Fatimah juga membeberkan contoh konkret dari kegamangan kebijakan pemerintah yang dampaknya super fatal bagi masyarakat luas:
- Sektor Kesehatan (BPJS Defisit): Fatimah menyoroti kondisi BPJS yang secara blak-blakan menyatakan adanya potensi gagal bayar pada Juli 2027 mendatang. Hal ini terjadi akibat defisit anggaran yang terus membengkak setiap bulannya.
- Sektor Pendidikan (Jauh Panggang dari Api): Permasalahan pelik di dunia pendidikan beserta solusinya dinilai hanya manis menjadi bahan jualan dan topik hangat saat masa kampanye saja. Begitu masuk ke ranah implementasi, kenyataannya jauh panggang dari api.
Bagi BEM UI, urusan kesehatan dan pendidikan adalah persoalan dengan tingkat urgensi dan tujuan yang sangat tinggi yang mestinya diselesaikan dan dituntaskan terlebih dahulu oleh pemerintah.
Baca Juga : Mahasiswa Malang Demo Tolak Efisiensi dan Program MBG
Kuncinya Ada di Tangan Presiden, Bukan Reshuffle Menteri!
Menanggapi carut-marutnya implementasi kebijakan di lapangan, Fatimah menilai masalah utamanya bukan terletak pada para pembantu presiden (menteri/pejabat di bawahnya). Kunci utama perbaikan ini mutlak ada di tangan Presiden Prabowo sendiri sebagai kepala negara.
“Jika persoalannya terletak pada karakter kepemimpinan mereka sendiri, maka mengganti siapapun yang ada di bawahnya bisa jadi tidak akan menyelesaikan masalah,” tegas Fatimah.
Fatimah melihat adanya kegamangan fatal pada konsep, tujuan, dan kebijakan itu sendiri. Oleh karena itu, BEM UI mendesak agar Kepala Negara segera mengubah pola pembuatan kebijakan dengan benar-benar memperhatikan kondisi serta kebutuhan riil masyarakat di bawah.
Suara kritis dari Fatimah Azzahra ini jadi pengingat penting buat jalannya pemerintahan saat ini, gaes. Ketika anggaran negara yang besar dipakai buat mendanai program-program baru yang sifatnya masih “uji coba”, ada sektor wajib seperti BPJS Kesehatan dan kestabilan pendidikan yang justru sedang berdarah-darah di lapangan. Menata ulang skala prioritas adalah jalan ninja terbaik agar masyarakat gak makin terjepit. (Aye/sg)










